Showing posts with label Makalah. Show all posts
Showing posts with label Makalah. Show all posts

Demokrasi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Budaya Demokrasi”
Makalah ini berisikan tentang informasi Pengertian demokrasi, pemikiran tentang demokrasi, ciri-ciri demokrasi, prinsip-prinsip demokrasi, dan ciri-ciri masyarakat madani serta jalan menuju masyarakat madani dalam sistem pemerintahan demokrasi.
Di harapkan makalah ini dapat memberikan kita informasi lebih jelas tentang budaya demokrasi menuju masyarakat madani.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Pageruyung, November 2017
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang


Sekarang bangsa Indonesia berada di era reformasi. Era reformasi ini ditandai dengan keinginan bersama untuk membentuk Negara Indonesia yang demokratis. Hal ini sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945, yaitu membentuk Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat. Kehidupan demokrasi yang diinginkan adalah bentuk pemerintahan demokrasi dan masyarakat yang demokratis.
B. Rumusan Masalah
Dalam tugas kami ini, kami akan mencoba membahas beberapa masalah antara lain :
1. Makna Budaya Demokrasi beserta definisinya, dan
2. Penerapan Budaya Demokrasi dalam Kehidupan Sehari – hari
C. Manfaat Pen ulisan
Untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan pembelajaran tentang makna demokrasi dan cara berperilaku demokrasi dalam lingkungan sehari – hari maupun bernegara.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Demokrasi
a. Pengertian Secara Bahasa atau etimologis
Dari sudut bahasa, demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitudemos yang berarti rakyat dan cratos atau cratein yang berarti pemerintahan atau kekuasaan . Jadi secara bahasa, demos-cratein atau demos-cratos berarti pemerintahan rakyat atau kekuasaan rakyat.
b. Pengertian Secara Istilah atau Terminologis
Pengertian demokrasi secara terminologis adalah pengertian demokrasi sebagaimana dinyatakan oleh para ahli, misalnya :
1. International Commission of Jurits
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan oleh rakyat di mana kekuasaan tertinggi di tangan rakyat dan dijalankan langsung oleh mereka atau oleh wakil – wakil yang mereka pilih di bawah sistem pemilihan yang bebas. Jadi, yang diutamakan dalam pemerintahan demokratis adalah rakyat.
2. Abraham Lincoln
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat ( government of the people, by the people, and for the people ).
3. C.F. Strong
Suatu system pemerintahan di mana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintahan akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan – tindakan kepada mayoritas itu.
4. Henry B. Mayo
Sistem politik demokratis adalah system yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil – wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan – pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik.
B. Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan
Bentuk Pemerintahan dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Pemerintahan yang baik
  • Monarki, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
  • Aristokrasi. Yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang yang memimpin dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
  • Demokrasi, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh rakyat dan dijalankan untuk kepentingan rakyat banyak.
b. Pemerintahan yang buruk
  • Tirani, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan pribadi.
  • Oligarki, yaitu suatu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok orang dan dijalankan untuk kelompok itu sendiri.
  • Mobokrasi / Okhlokrasi / Anarki, yaitu suatu bentuk pemerintah yang dipegang oleh rakyat, tetapi rakyat yang tidak tahu apa – apa, rakyat yang tidak berpendidikan, dan rakyat yang tidak paham tentang pemerintahan, yang akhirnya pemerintahan yang dijalankan tidak berhasil untuk kepentingan rakyat banyak malahan menimbulkan kekacauan.
Dalam pemerintahan demokrasi, kekuasaan berada di tangan rakyat mengandung tiga pengertian, yaitu :
a . Pemerintahan berasal dari rakyat
Kekuasaan yang diperoleh pemerintahan adalah kekuasaan yang berasal dari kehendak rakyat. Pemerintahan itu mendapat dukungan dan pengakuan dari rakyat. Kekuasaan tersebut didapatkan melalui pemilihan umum dari rakyat bukan dari wangsit.
b . Pemerintahan dijalankan oleh rakyat
Pemerintah menjalankan kekuasaan atas nama rakyat, bukan atas kehendak sendiri. Dalam menjalankan kekuasaannya, pemerintah juga berada di bawah pengawasan rakyat, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
c . Pemerintah ditujukan untuk rakyat
Kekuasaan yang diamanatkan rakyat kepada pemerintah itu ditujukan untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat diutamakan dan harus didahulukan dari pada kepentingan diri sendiri dan golongan.
C. Budaya Demokrasi
Pada masa sekarang, demokrasi tidak hanya dipahami sebagai bentuk pemerintahan saja tetapi menjadi pola kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendapat para ahli tentang demokrasi tersebut adalah sebagi berikut :
a. John Dewey, demokrasi adalah pandangan hidup yang dicerminkan dari perlunya partisipasi warga Negara dalam membentuk nilai – nilai yang mengatur kehidupan bersama.
b. Padmo Wahyono, demokrasi adalah pola kehidupan berkelompok yang sesuai dengan keinginan dan pandangan hidup orang – orang yang berkelompok tersebut.
c. Tim ICCE UIN Jakarta, demokrasi sebagai way of live ( pandangan hidup ) dalam seluk – beluk sendi kehidupan bernegara, baik oleh rakyat maupun pemerintah.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka demokrasi dipahami tidak hanya sebagi bentuk pemerintah tetapi juga pola hidup atau pendangan hidup dari pemerintah dan masyarakat yang mencerminkan adanya nilai – nilai demokrasi. Jadi, suatu Negara dikatakan Negara demokrasi apabila memenuhi dua kriteria, yaitu :
a. Pemerintahan demokrasi yang berwujud pada adanya institusi demokrasi,
b. Masyarakat demokratis yang berwujud pada adanya budaya (kultur) demokrasi.
D. Penerapan Budaya Demokrasi
Budaya demokarasi perlu dikembangkan di masyarakat. Demokarasi juga harus diterapkan atau dipertaktikkan dalam berbagai kegiatan kehidupan. Mulai dari lingkungan kecil seperti keluarga sampai pada lingkungan besar, yaitu kehidupan bernegara, bahkan dalam pergaulan internasional. Dan penerapan budaya demokrasi dibagi menjadi dua , yaitu sebagai berikut :
Penerapan budaya demokrasi di lingkungan sekitar
A. Contoh penerapan budaya demokrasi di lingkungan keluarga :
· Kesediaan untuk menerima kehadiran sanak saudara;
· Menghargai pendapat anggota keluarga lainnya;
· Senantiasa musyawarah untuk pembagian kerja;
· Terbuka terhadap suatu masalah yang dihadapi bersama.
B. Contoh penerapan budaya demokrasi di lingkungan masyarakat:
· Bersedia mengakui kesalahan yang telah dibuatnya;
· Kesediaan hidup bersama dengan warga masyarakat tanpa deskriminasi;
· Menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengannya;
· Menyelesaikan masalah dengan mengutamakan kompromi;
· Tidak merasa benar atau menang sendiri dalam berbicara dengan warga lain.
C. Contoh penerapan budaya demokrasi di lingkungan sekolah:
· Bersedia bergaul dengan teman sekolah tanpa membeda – bedakan;
· Menerima teman – teman yang berbeda latar belakang budaya, ras dan agama;
· Menghargai pendapat teman meskipun pendapat itu berbeda dengan kita;
· Mengutamakan musyawarah, membuat kesepakatan untuk menyelesaikan masalah;
  • Sikap anti terhadap kekerasan;
D. Penerapan budaya demokrasi di kehidupan bernegara
· Bersedia menerima kesalahan atau kekalahan secara dewasa dan ikhlas;
· Kesediaan para pemimpin untuk senantiasa mendengar dan menghargai pendapat warganya;
· Memiliki kejujuran dan integritas;
· Memiliki rasa malu dan bertanggung jawab kepada publik;
· Menghargai hak – hak kaum minoritas;
· Menghargai perbedaan yang ada pada rakyat;
· Mengutamakan musyawarah atau kesepakatan bersama untuk meyelesaikan masalah – masalah kenegaraan.
Dengan demikian, dalam kehidupan bernegara yang demokratis, tidak hanya lembaga pemerintahannya saja yang dibuat demokrasi, tetapi juga perilaku para pemimpin harus demokratis. Para pemimpin dan penyelenggara Negara harus memiliki dan menerapkan budaya demokrasi
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Demokrasi bisa diartikan secara etimologis dan terminologis. Secara etimologis,demokrasi adalah pemerintahan atau kekuasaan rakyat, sedangkan secara terminologis adalah menurut pengertian dari para ahli.
2. Demokrasi tidak hanya merupakan bentuk pemerintahan tetapi juga pola sikap dan budaya suatu masyarakat. Negara demokrasi mengharuskan adanya dua persyaratan, yaitu adanya pemerintahan demokrasi dan budaya demokrasi.
3. Budaya demokrasi berisi nilai – nilai demokrasi yang dimiliki, dikembangkan, dan dipraktikan oleh masyarakat. Masyarakat yang berbudaya demokrasi atau masyarakat demokratis akan mendukung pemerintahan demokrasi.
4. Nilai – nilai demokrasi tidak hanya dimiliki oleh warga Negara, tetapi juga oleh para penyelenggara Negara atau para pemimpin Negara. Budaya demokrasi perlu dipraktikan dalam berbagai kehidupan
B. Saran
Kita selaku siswa siswi, baiknya kita dapat mengerti dan memahami prinsip – prinsip demokrasi yang harus ditegakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab dengan tegaknya prinsip – prinsip demokrasi tersebut sangat menunjang keberhasilan pelaksanaan pemerintahan yang demokratis dalam suatu Negara.
Share:

ABRASI

KATA PENGANTAR
Dengan nama Allah SWT, puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-NYA lah kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Abrasi tepat pada waktunya.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada,kepala sekolah dan guru pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan yang begitu besar kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar laporan ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata, kami berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Pageruyung, November 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............................................................................................1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 1
C. Tujuan ............................................................................................................ 1
D. Manfaat .......................................................................................................... 1
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Lingkungan Hidup ....................................................................... 2
B. Unsur – Unsur Lingkungan ............................................................................ 2
C. Pengertian Abrasi ........................................................................................... 2
D. Dampak Abrasi .............................................................................................. 2
E. Mangrove ....................................................................................................... 3
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan penelitian .................................................................... 4
B. Sumber Data .................................................................................................. 4
C. Teknik Pengambilan Data .............................................................................. 5
BAB IV. HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
A. Abrasi pantai .................................................................................................. 6
B. Penyebab Abrasi ............................................................................................ 6
C. Dampak Abrasi .............................................................................................. 7
D. Cara Mengatasi Abrasi .................................................................................. 8
E. Manfaat Mangrove Dalam Penanggulangan Abrasi ...................................... 9
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................. 11
B. Saran ............................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 11
LAMPIRAN ............................................................................................................ 12

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kabupaten Kendal adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Tengah, Indonesia . Bagian utara Kabupaten ini sebagian besar berupa lautan, yang termasuk deretan laut utara jawa yang juga merupakan pusat kegiatan bahari di Kabupaten ini. Daerah tersebut memiliki tempat wisata yang sangat terkenal yaitu pantai sendang sikucing, namun saat ini di sekitar bibir pantai mengalami pengikisan akibat abrasi pantai. disini kami ingin mengetahui apa yang dimaksud abrasi, dampak apa saja yang ditimbulkan dari abrasi dan bagai mana penanggulangan abrasi tersebut.
B. Rumusan Masalah
1. Pengertian abrasi
2. Dampak dari abrasi
3. Penyebab munculnya abrasi
4. Cara menanggulangi abrasi
5. Bagaimana keadaan wilayah yang terkena abrasi
6. Bagaimana terjadinya abrasi
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini pada dasarnya ialah yang pertama merupakan syarat mengikuti ujian mata pelajaran “Geografi”. Namun dari sisi lain kami juga ingin mengetahui bagaimana upaya pemecahan masalah dan menanggulangi abrasi air laut. Sehingga kami dapat memperoleh pengetahuan yang sebelumnya kita tidak tahu. Bahkan makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi orang lain yang membacanya.
D. Manfaat
Ingin mengetahui mengenai pengertian abrasi, dampak apa saja yang di timbulkan oleh abrasi dan cara penanggulangan abrasi itu seperti apa. Dan juga dapat menambah wawasan kita dengan hal yang sebelumnya belum kita ketahui.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup adalah istilah yang dapat mencangkup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam yang ada di bumi atau bagian dari bumi yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan.
B. Unsur – Unsur Lingkungan
Menurut Undang-Undang no 1 Tahun 1982 lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan,dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang memengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Berdasarkan pengertian tersebut, lingkungan hidup tersusun dari berbagai unsur yang saling berhubungan satu sama lain, yaitu unsur biotik, abiotik, dan sosial budaya.
C. Pengertian Abrasi
Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi. Salah satu cara untuk mencegah terjadinya abrasi adalah dengan penanaman hutan mangrove . Ada pula yang berpendapat bahwa, abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub akibat pemanasan global.
D. Dampak Abrasi
· Dampak yang ditimbulkan dari abrasi yaitu megikisnya bibir pantai, sehingga semakin lama air naik ke permukaan, bahkan dapat merusak daerah disekitar pantai.
· Penyusutan lebar pantai sehingga menyempitnya lahan bagi penduduk yang tinggal di pinggir pantai
· Kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai, karena terpaan ombak yang didorong angin kencang begitu besar.
· Kehilangan tempat berkumpulnya ikan- ikan perairan pantai karena terkikisnya hutan bakau
· Menghambat pengembangan potensi kelautan di kabupaten Karawang secara keseluruhan, baik pengembangan hasil produksi perikanan maupun pemanfaatan sumber daya kelautan lainnya.
E. Mangrove
Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa atau berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang/surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik diteluk- teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitarmuara sungai dimana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu . Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah, salinitas tanahnya yang tinggi, serta mengalami daur penggenangan oleh pasang/surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat air laut pasang dan bebas dari genangan pada saat air laut surut yang komunitas tumbuhannya adaptif terhadap garam.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif, yaitu penelitian yang menekankan pada perolehan data asli atau natural conditional.
2. Metode Pengumpulan Data
dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan penelaahan dokumentasi. Penelitian kualitatif sifatnya deskriptif analitik. Data yang diperoleh seperti hasil pengamatan, hasil wawancara, hasil pemotretan, analisis dokumen, catatan lapangan, disusun peneliti dilokasi penelitian, tidak dituangkan dalam bentuk angka. Peneliti melakukan analisis data dengan memperkaya informasi, mencari hubungan, membandingkan, menemukan pola atas dasar data aslinya (tidak ditransformasikan dalam bentuk angka). Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam uraian naratif.
Dengan metode pendekatan yang saling korelasional, penelitian di lakukan dalam situati alamiah akan tetapi dahului semacam intervensi atau campur tangan dari pihak peneliti. Intervensi yang di maksud ini agar terjadi fenomena yang di kehendaki oleh peneliti dapat segera tampak dan diamati. Dengan demikian terjadi semacam kontrol atau kendali terhadap situasi di lapangan.
B. Sumber Data
Sumber data menyatakan dari mana data penelitian itu diperoleh. Dalam penelitian kualitatif sumber data yang diperoleh berasal dari kata-kata atau tindakan dan selebihnya merupakan data.
1) Data primer
Data primer adalah data utama yang diperlukan dalam penelitian ini. Sumber data dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan (wawancara atau pengamatan), catatan tertulis melalui video/ audio tapes, foto, data statistik, yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu hasil wawancara dengan para penduduk dan juga para nelayan di daerah pantai sikucing Kecamatan Rowosari – Weleri.
2) Data sekunder
Data ini merupakan data penunjang bagi penyusun skripsi ini. Data ini diperoleh dari bahan kepustakaan atau data yang sudah ada seperti penelitian tentang abrasi, teori- teori lingkungan dan data lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
C. Teknik Pengumpulan Data
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1) Metode Dokumentasi
Metode ini dipergunakan untuk menginventarisasi subyek fisik yang ada dilapangan dan menunjang penelitian Karena dipakai dalam berbagai keperluan. Menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan untuk menelaah segi-segi subyektif dan hasilnya sering dianalisis secara induktif.
2) Metode observasi
Observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera.
3) Wawancara
Wawancara sebagai metode pengumpulan data dengan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penelitian. Wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu dan merupakan proses tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik. Wawancara dilakukan secara tidak terstruktur bersifat luwes dan terbuka.
BAB IV
HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
A. Abrasi Pantai
Ketika kita berada di pantai lalu kita menghadap kearah laut, maka kita kita melihat air laut yang bergulung-gulung. Fenomena tersebut disebut dengan gelombang laut. Gelombang ini berjalan sesuai arah arus laut. Besar kecilnya gelombang laut dipengaruhi oleh besar-kecilnya angin yang berhembus. Angin yang berhembus akan mempengaruhi tinggi rendahnya gelombang ( Crest,Trough,dan Wafe Height ), panjang gelombang ( Wafelength ) dan kemiringan gelombang ( Wafe steepness ).
Semakin kuat angin yang berhembus tinggi gelombang, panjang gelombang, dan kemiringan gelombang akan semakin tinggi. Kolaborasi antara tinggi gelombang, panjang gelombang, dan kemiringan gelombang akan berakibat pada pengikisan pantai ketika gelombang sampai dan berbenturan dengan garis pantai/tepian pantai.
Pengikisan ini berakibat garis pantai akan semakin menjorok kedalam, dan mengubah pola garis pantai dari sebelumnya. Peristiwa pengikisan ini disebut dengan abrasi pantai.
Besar kecilnya abrasi pantai dipengaruhi oleh model gelombang dan arus laut serta kharakteristik wilayah pantai itu sendiri. Model gelombang yang sangat cocok untuk mengabrasi pantai yaitu gelombang yang memiliki kemiringan gelombang yang tinggi. Kemiringan gelombang yang tinggi diakibatkan oleh hembusan angin yang kencang di satu arah saja, karakteristik pantai mempengaruhi bersaran abrasi yang terjadi.
B. Penyebab Abrasi Pantai
Abrasi disebabkan oleh naiknya permukaan air laut diseluruh dunia karena mencairnya lapisan es di daerah kutub bumi. Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memprihatinkan. Kerusakan atau abrasi pantai disebabkan oleh gejala alami dan ulah tangan manusia, kerusakan pelindung pantai dari abrasi dapat disebabkan oleh :
1. pengambilan batu dan pasir di pesisir pantai
Pengerukan pasir pantai yang berlebihan dapat berdampak pada berubahnya garis pantai menjadi lebih menjorok ke daratan sehingga dapat mempercepat adanya proses abrasi.
2. Penebangan pohon di sekitar pantai dan kurang diperhatikannya hutan mangrove.
Manusia mengambil kayu dari hutan mangrove dan hutan pantai untuk kehidupan sehari-hari, apabila pengambilan kayu dilakukan secara terus-menerus maka pohon-pohon di pesisir pantai akan berkurang. Kerapatan pohon yang rendah pada pesisir pantai memperbesar peluang terjadinya abrasi.
Meningkatnya abrasi juga disebabkan oleh adanya global warming yang menyebabkan mencairnya es dikutub. Mencairnya es dikutub menyebabkan muka air laut meninggi sehingga menyebabkan membesarnya abrasi di indonesia.
Abrasi bisa dicegah dengan penanaman pohon mangrove, melestarikan hutan pantai, memelihara dan melestarikan kawasan pantai seperti batu dan komponen sekitar pantai. Pemerintah juga harus berperan aktif dalam upaya pencegahan abrasi pantai indonesia. Seperti melakukan pembangunan alat pemecah ombak dan penyediaan bibit penghijauan hutan mangrove di sekitar pantai. Namun masih menyisakan persoalan tersendiri mengenai cara mengatasi abrasi, misalnya dalam pembangunan alat pemecah ombak ini diperlukan biaya yang sangat mahal dan juga wilayah tempat pembangunannya sangat luas, sehingga untuk membangun alat ini di seluruh pantai yang terkena abrasi akan memerlukan waktu yang sangat lama dan juga biaya yang sangat mahal. Upaya penanaman tanaman bakau di pinggir pantai juga banyak hambatannya. Tanaman bakau hanya dapat tumbuh pada tanah gambut yang berlumpur. Hal ini akan menjadi sangat sulit karena sebagian besar pantai di Indonesia merupakan perairan yang dasarnya tertutupi oleh pasir, seperti kita ketahui bahwa tanaman bakau tidak dapat tumbuh pada daerah berpasir.
Peran serta penduduk lokal dan masyarakat sekitar pantai sangat di harapkan untuk mengatasi masalah abrasi pantai indonesia, oleh karena itu perlu adanya kesadaran dari setiap orang dengan pihak terkait untuk selalu memahami betapa pentingnya masalah ini, sehingga ditemukan solusi terbaik untuk mengatasi abrasi pantai
C. Dampak Abrasi Pantai
Abrasi merupakan proses pengikisan pantai yang dikarenakan kekuatan gelombang laut dan arus laut yang kuat dan bersifat merusak, kerusakan atau abrasi pantai disebabkan oleh gejala alami dan ulah tangan manusia, seperti pengambilan batu dan pasir di pesisir pantai, atau penebangan pohon di sekitar pantai, kurang diperhatikannya hutan mangrove. Manusia mengambil kayu dari hutan mangrove dan hutan pantai untuk kehidupan sehari-hari, apabila pengambilan kayu dilakukan secara terus-menerus maka pohon-pohon di pesisir pantai akan berkurang. Kerapatan pohon yang rendah pada pesisir pantai memperbesar peluang terjadinya abrasi. Dampak yang diakibatkan oleh abrasi ini sangat besar. Garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama kelamaan daerah-daerah yang mempunyai permukaannya rendah akan tenggelam. Lokasi wisata terutama pantai yang indah dan menjadi tujuan wisata akan menjadi rusak. Pemukiman warga daerah pesisir dan tambak akan tergerus akibat gelombang laut hingga menyatu menjadi laut. Tidak sedikit warga di pesisir pantai yang telah direlokasi gara-gara abrasi pantai ini. Banyak dilakukan reklamasi untuk menanggulangi abrasi namun tetap berdampak pada daerah yang memiliki ketinggian rendah dalam bentuk banjir rob. Abrasi pantai juga berpotensi menenggelamkan beberapa pulau kecil di sekitar perairan Indonesia.
D. Cara Mengatasi Abrasi Pantai
Secara alami pantai telah memiliki pelindung alami akan tetapi dalam perkembangannya terdapat perubahan yang sangat signifikan dan berpengaruh pada garis pantai. Solusi untuk mengatasi abrasi tidak boleh sembarangan dan harus memperhatikan kondisi sekitar agar solusi yang di ambil sesuai dan efektif.
Perlindungan pantai dapat dilakukan dengan soft solution (non struktur) atau hardsolution (terstruktur).
Soft solution
• Penanaman tumbuhan pelindung pantai
Penanaman tumbuhan pelindung pantai (bakau, nipah dan pohon api-api) dapat dilakukan terhadap pantai berlempung, karena pada pantai berlempung pohon bakau dan pohon api api dapat tumbuh dengan baik tanpa perlu perawatan yang rumit. Pohon bakau dan pohom api-api dapat mengurangi energi gelombang yang mencapai pantai sehingga pantai terlindung dari serangan gelombang.
• Pengisian pasir (sand nourishment)
Prinsip kerja sand nourishment yaitu dengan menambahkan suplai sedimen ke daerah pantai yang potensial akan tererosi. Penambahan sedimen dapat dilakukan dengan menggunakan bahan dari laut maupun dari darat, tergantung ketersediaan material dan kemudahan transportasi. Suplai sedimen berfungsi sebagai cadangan sedimen yang akan di bawa oleh badai (gelombang yang besar) sehingga tidak mengganggu garis pantai. Diusahakan kualitas pasir urugan harus lebih baik atau sama dengan kualitas pasir yang akan diurug atau diameter pasir urugan diusahakan lebih besar atau sama dengan diameter pasir asli (Triatmodjo, 1999).
• Groyne (groin)
Pembuatan bangunan groin sangat mempengaruhi daerah erosi pantai,hal ini terjadi karena dalam pembuatan groin hanya berfungsi sebagai mengatasi longshore transport atau perpindahan sedimen sejajar pantai. Panjang groin akan efektif menahan sedimen apabila bangunan tersebut menutup lebar surfzone. Namun keadaan tersebut dapat mengakibatkan suplai sedimen ke daerah hilir terhenti sehingga dapat mengakibatkan erosi di daerah hilir. Sehingga panjang groin dibuat 40% sampai dengan 60% dari lebar surfzone dan jarak antar groin adalah 1-3 panjang groin.
• BREAKWATER
Breakwater adalah pemecah gelombang yang ditempatkan secara terpisah-pisah pada jarak tertentu dari garis pantai dengan posisi sejajar pantai. Struktur pemecah gelombang ini dimaksudkan untuk melindungi pantai dari hantaman gelombang yang datang dari arah lepas pantai.
• SEAWALL
Seawall merupakan bangunan yang digunakan untuk melindungi struktur pantai dari bahaya erosi/abrasi dan gelombang kecil. Seawall dibangun pada sepanjang garis pantai yang diprediksikan mengalami abrasi. Seawall dimaksudkan untuk melindungi pantai dan daerah dibelakangnya dari serangan gelombang yang dapat mengakibatkan abrasi dan limpasan gelombang.
E. Manfaat Mangrove Dalam Penanggulangan Abrasi
Mengapa harus hutan mangrove, karena mangrove yang ditanam di pinggiran pantai, akar-akarnya mampu menahan ombak sehingga menghambat terjadinya pengikisan pantai. Abrasi pantai tidak hanya membuat garis-garis pantai menjadi menyempit, bila dibiarkan bisa menjadi lebih berbahaya. Demikian juga dengan pemukiman penduduk yang berada di areal pantai tersebut. Hutan mangrove memberikan perlindungan kepada berbagai organisme baik hewan darat maupun hewan air untuk hidup dan berkembang biak. Hutan mangrove
dipenuhi pula oleh kehidupan lain seperti mamalia, amfibi, reptil, burung, kepiting, ikan, primata, serangga dan sebagainya. Selain menyediakan keanekaragaman hayati
ekosistem mangrove juga menunjang keseluruhan sistem kehidupan di sekitarnya. Habitat mangrove merupakan tempat mencari makan dan sebagai tempat bertelur dan memijah, dan tempat berlindung yang aman bagi berbagai ikan-ikan kecil serta kerang dari predator. Selain manfaat mangrove dalam penanggulangan abrasi, mangrove juga memiliki manfaat lain, seperti:
1. Manfaat dari segi fisik
• menjaga agar garis pantai tetap stabil
• melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi
• menahan badai/angin kencang dari laut
• menahan hasil proses penimbunan lumpur, sehingga memungkinkan terbentuknya lahan baru, menjadi wilayah penyangga
• menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar
• mengolah limbah beracun
• penghasil O 2 dan penyerap CO2
2. Manfaat dari segi biologi
• menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton, sehingga penting pula bagi keberlangsungan rantai makanan
• tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang
• tempat berlindung, bersarang dan berkembang biak dari burung dan satwa lain
• merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota
3. Man7aat .ari segi ekonomi
• penghasil kayu bakar, arang, bahan bangunan
• penghasil bahan baku industri : pulp, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan, kosmetik
• penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting
• tempat wisata, penelitian dan pendidikan
Hutan mangrove merupakan salah satu bagian dari ekosistem pantai (pesisir). Tipe hutan ini beserta tipe-tipe ekosistem lainnya (terumbu karang,estuaria) saling berinteraksi dalam upaya memelihara produktifitas perairan pantai dan kestabilan habitat atau lingkungan pantai. Untuk mengatasi persoalan abrasi ini, pemerintah bersama masyarakat seharusnya mempunyai komitmen yang kuat untuk melakukan penghijauan hutan
Mangrove dan upaya pelestariannya disekitar pantai yang terkena ancaman abrasi.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang kami dapatkan, yaitu abrasi merupakan pengikisan pantai oleh tenaga gelombanglaut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut, dampak yang ditimbulkan abrasi tersebut sangat besar misalnya penyusutan lebar pantai sehingga menyempitnya lahan bagi penduduk yang tinggal di pinggir pantai, kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai, karena terpaan ombak yang didorong angin kencang begitu besar, kehilangan tempat berkumpulnya ikan- ikan perairan pantai karena terkikisnya hutan bakau, menghambat pengembangan potensi kelautan di kabupaten Karawang secara keseluruhan, baik pengembangan hasil produksi perikanan maupun pemanfaatan sumber daya kelautan lainnya, cara penanggulangannya seperti, penghijauan hutan mangrove di sekitar pantai, siring di sekitar bibir pantai, di letakkannya batu-batu besar di sekitar bibir pantai, menggunakan alat berat seperti, traktore.
B. Saran
Masyarakat dapat menjaga lingkungan disekitar pantai dan juga pemerintah harus lebih memperhatikan keadaan lingkungannya, dan penanggulangan abrasi di pantai tangkisung harus terus di kerjakan agar abrasi tersebut tidak semakin parah.
Semoga dengan adanya laporan ini dapat menambah wawasan bagi yang membacanya


Lampiran




Share:

Kebudayaan BALI

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat serta karunia-NYA kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang mengenai “KEBUDAYAAN BALI”.
Makalah ini berisikan tentang kebudayaan penduduk Pulau Dewata. Dimana masyarakat yang tinggal di pulau ini kebanyakan beragama Hindu. Sehingga adat dan budayanya pun sangat kental dengan adat Hindu.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan karena keterbatasan kami dalam berbagai hal. Oleh karena itu kepada semua pihak kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah kami ini.
Pageruyung, Oktober 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB II. PEMBAHASAN
A. Rumah Adat
B. Pakaian Adat
C. Tarian Daerah
D. Lagu daerah
E. Alat Musik Tradisional
F. Senjata Tradisional
G. Upacara Adat
H. Makanan Khas
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural, agama maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di wilayah Negara kesatuan republik indonesia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Salah satu pulau yang terkenal sampai mancanegara adalah pula Bali. Pulau dewata ini digadang – gadang sebagai surge dunia, karena keindahan alam dan juga keunikan adat budayanya.
Kebudayaan adalah salah satu aset penting bagi sebuah Negara berkembang, kebudayaan tersebut untuk sarana pendekatan sosial, simbol karya daerah, asset kas daerah dengan menjadikannya tempat wisata, karya ilmiah dan lain sebagainya. Dalam hal ini kebudayaan Bali yang masih mengedepankan budaya leluhurnya, dan juga agamanya sehingga membuat kebudayaan tersebut sangat menarik dan juga sebagai ritual ibadah mereka dalam menyembah sang pencipta. Dari uraian di atas kami tertarik untuk membuat makalah yang terkait dengan kebudayaan Bali secara lebih mendalam dengan mengambil judul "Keragaman Etnik & Budaya Bali”
B. Rumusan Masalah
· Apa dan bagaimana adat dan kebudayaan yang ada di Pulau Bali ?
C. Tujuan
· Agar semua kalangan dari siswa-siswi dapat mengetahui kebudayaan penduduk Bali.
D. Manfaat
· Agar semua kalangan mengetahui seluk beluk tentang kebudayaan penduduk Bali.
BAB II
PEMBAHASAN
Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang ada di Indonesia yang menyediakan beberapa tempat wisata yang sangat unik dan indah, tentunya bagi kalian yang sudah pernah berkunjung ke Pulau Bali ini pasti mengetahui apa saja tempat-tempat wisata yang ada di Pulau Bali tersebut.
Yang perlu kalian tahu, di Pulau Bali ini bukan hanya menawarkan keindahan-keindahan tempat wisata saja loh, tetapi pulau bali ini menawarkan Kebudayaan Bali yang sangat banyak sekali kategori nya.
A. Rumah Adat


Rumah Adat Bali / Bali, selain dikenal memiliki eksotisme alam yang luar biasa, juga telah diakui banyak kalangan sebagai provinsi yang memiliki banyak keunikan budaya. Masyarakat Bali secara umum dianggap mampu mempertahankan budaya yang telah diwariskan nenek moyang mereka meski telah berpuluh-puluh tahun digempur dengan masuknya banyak orang asing –terutama wisatawan yang datang dengan membawa budaya-budaya baru. Salah satu bentuk lestarinya budaya asli Bali dapat kita lihat dari adanya desain rumah adat yang sangat familiar dan hampir digunakan semua penduduk Bali, yakni rumah adat bernama Gapura Candi Bentar yang kini juga telah resmi menjadi rumah adat Bali. Rumah adat satu ini adalah cerminan dari budaya Bali yang sarat akan nilai-nilai Hindu.
1. Struktur Ruangan Rumah
Nama Gapura Candi Bentar yang dimiliki rumah ini sebetulnya berasal dari desain gapura atau pintu masuknya yang diukir sedemikian rupa sehingga tampak seperti candi. Gapura ini berukuran cukup besar dan dibangun tanpa atap penghubung. Hanya ada 2 bangunan candi yang kembar saling berhadapan dan saling terpisah. Keduanya hanya dihubungkan oleh beberapa anak tangga dan pagar pintu yang biasanya dibuat dari besi. Melongok ke bagian dalam pagar tembok (panyengker), kita akan melihat bahwa rumah adat Bali ini memang sarat dengan nilai-nilai Hindu. Terdapat sebuah bangunan suci di depan rumah yang biasa digunakan untuk bersembahyang. Sama seperti gapura, bangunan tempat ibadah yang bernama Sanggah atau Pamerajan itu juga dipenuhi dengan ukiran dan ornamen-ornamen khas Bali beserta totem-totem pemujaan. Di tempat inilah sesaji diletakan para wanita setiap hari. Adanya tempat ibadah dalam desain rumah adat Bali merupakan bukti nyata kuatnya masyarakat Bali dalam memegang erat falsafah Asta Kosala Kosali. Falsafah ini mengatur hidup masyarakat Bali tentang hubunganya dengan Tuhan, hubungannya dengan manusia lain, dan hubungannya dengan alam. Masuk ke bagian dalam rumah, kita akan melihat beberapa ruangan yang memiliki fungsinya masing-masing. Panginjeng Karang. Ruangan ini merupakan tempat untuk memuja yang menjaga pekarangan. Bale Manten. Ruangan ini merupakan tempat untuk tidur kepala keluarga, anak gadis dan tempat menyimpan barang-barang berharga. Bagian ini juga sering digunakan bagi pasangan yang baru menikah. Bale Gede atau Bale Adat. Ruangan ini merupakan tempat untuk upacara lingkaran hidup. Bale Dauh. Ruangan ini merupakan tempat untuk bekerja, digelarnya pertemuan, dan tempat tidur anak laki-laki. Paon. Ruangan ini merupakan dapur yang digunakan sebagai tempat memasak Lumbung. Ruangan ini merupakan tempat untuk penyimpanan makanan pokok, seperti padi dan hasil bumi lainnya.
2. Material Bangunan Secara umum,
Material yang digunakan untuk membangun rumah Gapura Candi Bentar tidak dapat disamaratakan karena pengaruh tingkat ekonomi dan strata sosial pemiliknya. Untuk masyarakat biasa, dinding rumah ini biasanya dibangun menggunakan speci yang dibuat dari tanah liat (popolan), sementara untuk golongan bangsawan biasanya dibangun menggunakan tumpukan bata. Adapun atapnya sendiri bisa dibuat dari genting tanah, alang-alang, ijuk, atau sejenisnya sesuai dengan kemampuan finansial pemilik rumah.
3. Nilai-Nilai Dalam Rumah Adat Bali
Selain berfungsi sebagai ikon budaya dan tempat tinggal, rumah Gapura Candi Bentar nyatanya juga mengandung beragam nilai filosofis yang menggambarkan kearifan lokal budaya Masyarakat Bali. Dalam pembangunan misalnya, rumah adat ini dibuat melalui serangkaian proses panjang, mulai dari proses pengukuran tanah (nyikut karang), ritual persembahan kurban dan mohon izin kepada leluhur untuk mendirikan rumah (caru pengerukan karang), ritual peletakan batu pertama (nasarin), proses pengerjaan, dan kemudian ditutup dengan upacara syukuran saat rumah selesai dibangun. Semua ritual tersebut pada intinya dilakukan dengan tujuan agar rumah yang didirikan dapat memberikan manfaat terbaik bagi si pemilik rumah. Ada pula beberapa aturan lain yang terdapat dalam tata letak dan pengaturan bagian rumah adat Bali ini. Umumnya, sudut utara dan timur rumah menjadi tempat yang disucikan, sementara sudaut barat dan selatan memiliki derajat kesucian yang lebih rendah. Hal ini membuat kita selalu menemukan tempat ibadah di sudut utara dan timur, dan tempat buang air, kamar mandi, dan penjemuran berada di sudut barat dan selatan.


B. Pakaian Adat.
Ada beberapa jenis pakaian adat di Bali, jika dilihat sekilas memang pakaian pakaian tersebut terlihat sama, tapi jika dilihat dengan seksama ternyata berbeda lho, yang membedakan pakaian adat Bali adalah asal daerah, jenis kelamin dan umur. Dengan melihat pakaian yang digunakan masyarakat Bali dalam suatu acara tertentu, bisa kita lihat dan bedakan status ekonomi dan pernikahannya. Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti apa nama pakaian adat Bali karena banyaknya jenis pakaian sesuai dengan daerah asal pengguna tersebut.

Secara umum pakaian adat untuk pria adalah :
· ikat kepala atau dalam bahasa Bali disebut Undeng
· kain kamen (sebagai pengganti celana)
· kain kampuh (kain penutup bagian pingging, setelah kamen)
· kemben sabuk dan perhiasan lainnya
· selendang pengikat atau dalam bahasa Bali disebut umpal.
Sedangkan bagi wanita Bali, umumnya pakaian adat yang digunakan adalah :
  • sanggul kemben
· songket sabuk prada yang biasanya membelit bagian dada dan pinggang
  • selendang songket
· kain tapih dan perhiasan lainnya.
Dan kita bisa mengetahui status sosial seseorang apabila masyarakat menggunakan pakaian tertentu seperti ; Saat menuju ke Pura biasanya remaja putri yang belum menikah menggunakan sanggul atau pusung gonjer sedangkan untuk wanita dewasa baik yang sudah menikah ataupun belum, biasanya menggunakan sanggul yang sering disebut pusung tagel. Pakaian adat Bali tidak hanya menampilkan keindahan bagi pemakainya saja, tapi juga menonjolkan sisi filosofi, simbolik dan nilai nilai yang terkandung didalamnya. Busana Agung merupakan pakaian yang paling mewah di Bali, biasanya pakaian ini digunakan dalam acara pernikahan, biasanya menggunakan kain wastra putih sebagai simbol kesucian, Busana Agung sendiri memiliki beberapa variasi tergantung tempat dan waktu. Dalam pemakaian pakaian adat Bali, sering kali kita melihat masyarakat Bali menyelipkan bunga di telinga dan rambut mereka, seperti bunga cempaka putih dan cempaka kuning, hal ini bukan hanya untuk keindahan saja, melainkan mempunyai maksud tersendiri sebagai penghormatan bagi tamu yang sudah berkunjung. Filosofi pakaian adat Bali pada dasarnya bersumber dari Sang Hyang Widhi, yaitu Tuhan yang dipercayai umat hindu yang memberikan kedamaian. Pakaian adat Bali ini biasa digunakan hanya pada acara tertentu saja, masyarakat Bali jarang menggunakannya untuk kegiatan sehari-hari.
C. Tarian Daerah
Keindahan tradisi yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat Bali membuat kita ingin kembali menyaksikannya. Seperti halnya tarian-tarian tradisionalnya yang unik dan istimewa di bawah ini:
1. Tari Kecak
Berbeda dengan tarian tradisional umumnya, tari kecak tidak diiringi oleh instrumen musik, melainkan oleh suara “chak-chak” yang diutarakan para penarinya. Dari suara itu jugalah asal nama tarian ini. Tarian ini dilakukan oleh sekelompok pria (yang jumlahnya bisa mencapai ratusan) yang duduk melingkar sambil mengangkat kedua tangan mengikuti irama dan dipimpin oleh seorang pendeta di tengah. Tarian yang mengambil cerita dari Ramayana ini dicipatakan pada tahun 1930-an oleh Wayang Limbak dan pelukis asal Jerman Walter Spies.

2. Tari Pendet
Tari pendet merupakan tarian Bali yang awalnya adalah tarian pemujaan yang diciptakan oleh I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng pada tahun 1950. Pada 1967, tarian tersebut diubah menjadi tarian penyambutan. Tarian ini dibawakan oleh sekelompok gadis muda yang masing-masing sambil membawa sangku, kendi, cawan, serta perlengkapan sesajen lainnya. Adapun orkes gamelan yang mengiringi tari pendet ini ialah gamelan gong, gamelan palegongan, atau gamelan semar pagulingan. Gerakannya sederhana namun dinamis, pendet sering dianggap sebagai dasar gerakan tari tradisional Bali.

3. Tari Legong

Nama dari tari ini berasal dari kata legong yang berarti gerakan yang terikat oleh iringan gamelan. Awalnya, tarian ini dikembangkan pada abad ke-19 di keraton-keraton Bali. Konon, tari yang biasanya dibawakan oleh dua atau tiga perempuan ini diciptakan atas dasar mimpi Pangeran Sukawati yang melihat bidadari. Awalnya, tarian ini juga dipentaskan khusus untuk upacara-upacara sakral. Raut wajah penari cenderung ekspresif dengan dinamika gerakan tangan dan kaki yang cukup kompleks. Tari Legong Kraton adalah jenis tarian yang paling terkenal.

4. Tari Cendrawasih


Sesuai dengan namanya, tari ini terinspirasi oleh burung langka yang hidup di Papua. Tari ini ditampilkan pertama kali pada 1988 dan diciptakan oleh N. L. N. Swasthi Wijaya Bandem. Tarian duet ini bercerita tentang sepasang burung cendrawasih yang bernyanyi dan menari saat tengah memadu kasih.
5. Tari Barong
Tarian khas Bali yang satu ini mirip dengan pertunjukan Barongsai asal Cina karena menggunakan boneka yang berwujud harimau. Hanya saja, cerita yang dimainkan dalam tari barong didasarkan pada cerita yang berbeda, yakni pertarungan antara Barong (kebaikan) dan Rangda (kebatilan). Selain itu, pertunjukan tari yang mengandung unsur komedi ini juga menyertakan tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa (anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda. Jenis-jenis tari barong adalah Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Gajah, Barong Asu (anjing), Barong Brutuk, serta Barong-barongan.

D. Lagu Daerah
Selain terkenal dengan wisatanya yang indah, Di Provinsi Bali ini juga terkenal dengan keanekaragaman Seni dan Budayanya. Salah satunya yaitu lagu daerahnya,dan berikut beberapa lagu Daerah dari Provinsi Bali :
Lagu Macep-cepetan
Jani m'lati macepet-cepetan
Nanging limane tusing dadi matiang
Sejaba ento mekajang dadi
Nyenje kalah lakar gedhing
Lagu Meyong-Meyong
Meong-meong…
Alih je bikule…
Bikul gede gede…
Buin mokoh-mokoh…
Kereng pesan ngerusuhin…
Lagu Putri Ayu
Cening putri ayu Ngijeng Cening jumah
Memeluas malu Ke peken meb'lanje
Apang ade daharan nasi
Memetiang ngiring Nongos ngijeng jumah
Sambilan mekumpul Ajak titiang dadue
Ditekani nyenggap gapin
Pelalian Cening Kotak wadah gerip
Jaje megenepan Ane luwung luwung
Bunge melah melah Ambunane sarwe miyik


E. Alat Musik Tradisional
Alat Musik Tradisional Bali pada umumnya juga dapat ditemukan dibeberapa provinsi lain di Indonesia. Akan tetapi selain perbedaan nama tentu saja alat musik tersebut memiliki ciri khas baik bentuk ornamen, ukiran atau cara memainkannya yang membuatnya berbeda walaupun dengan fungsi dan bunyi yang sama. Dan berikut ini beberapa alat musik tradisional Bali yang dapat kita kenal :
1. Alat Musik Tradisional Bali - "Gamelan Bali"
Bali yang kita kenal sebagai pulau dewata juga memiliki gamelan seperti halnya provinsi lain di pulau Jawa. Gamelan sendiri merupakan seperangkat alat musik tradisional yang terdiri dari gong, kendang, kempul dan gambang. Bahan pembuatan gamelan antara lain terbuat dari logam, menghasilkan suara yang nyaring dan gema yang yang bagus, dipakai dalam upacara agama dan mengiringi tarian.
Walaupun bisa dikatakan memiliki fungsi yang sama dengan gamelan dari pulau Jawa, akan tetapi bentuk ornamen atau hiasan gamelan Bali menjadi salah satu ciri yang membedakannya.

Gamelan Bali
2. Alat Musik Tradisional Bali - "Rindik"

Rindik merupakan salah satu alat musik tradisional Bali. Alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul tersebut terbuat dari susunan bambu.
Terdapat lima nada dasar yang dimiliki oleh Rindik. Rindik biasa digunakan sebagai musik pengiring hiburan rakyat "Joged Bumbung. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara pernikahan/resepsi serta dapat pula untuk menyambut tamu.
3. Alat Musik Tradisional Bali - "Ceng-Ceng"
Alat musik tradisional Bali selanjutnya disebut dengan Ceng-ceng. Ceng ceng adalah musik yang berbentuk seperti 2 buah keping simbal yang terbuat dari logam, yang dimainkan dengan carame madukan keping simbal tersebut. Alat musik tradisional Bali yang satu ini dipakai untuk mengiringi gamelan maupun rindik.
Alat musik ceng-ceng dari Bali
4. Alat Musik Tradisional Bali - "Pereret"
Alat musik tradisional Pereret dari Bali merupakan alat musik kuno sejenis trompet yang terbuat dari bahan kayu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi trompet. Alat musik ini banyak dibuat di daerah Jembrana, Bali. Biasanya alat musik ini digunakan untuk mengiringi kesenian Sewo Gati. Cara menggunakan Pereret ini adalah dengan meniup alat tersebut sehingga keluar suara yang sangat merdu dan menawan hati.
Di Bali jaman dahulu dikenal dengan istilah Pereret pengasih asih. Hal ini disebabkan karena biasanya alat ini sering dipakai oleh perjaka untuk mengguna-gunai seorang gadis yang dicintai nya, lalu memainkannya pada malam hari diatas pohon yang tinggi, sehingga suaranya bisa didengar sayup-sayup merdu dari jarak kurang lebih satu kilometer. Sebelum dipakai, alat tersebut terlebih dahulu diisi dengan kekuatan gaib oleh Jero Balian (Dukun) dengan cara memberi sesajen sakral yang dipersembahkan kepada Sanghyang Pasupati.







5. Alat Musik Tradisional Bali - "Genggong"




Alat musik tradisonal genggong Bali
Genggong merupakan salah satu instrumen getar yang unik yang semakin jarang dikenal orang. Keunikannya terletak pada suara yang ditimbulkannya yang bila dirasakan memberi kesan mirip seperti suara katak sawah yang riang gembira bersahut-sahutan di malam hari. Keunikannya yang lain adalah memanfaatkan rongga mulut orang yang membunyikannya sebagai resonator.
Alat musik tradisional Bali ini dibunyikan dengan cara mengulum (yanggem) pada bagian yang disebut “palayah”nya. Jari tangan kiri memegang ujung alat sebelah kiri dan tangan kanan menggenggam tangkai bambu kecil yang dihubungkan dengan tali benang dengan ujung alat di sebelah kanan. Untuk membunyikannya maka benang itu ditarik-tarik ke samping kanan agak menyudut ke depan, tetapi tidak meniupnya. Rongga mulut hanya sebagai resonator, dibesarkan atau dikecilkan sesuai dengan rendah atau tinggi nada yang diinginkan.
F. Senjata tradisional
Pada setiap masing-masing daerah pasti memiliki yang namanya dengan senjata tradisional, yang mana senjata tradisional itu ketika zaman dahulu dipergunakan dengan baik untuk berperang melawan musuh-musuh yang menyerang diri kita, berburu atau sebagai alat pelengkap ketika adanya kegiatan resmi.
Menurut kisah cerita, keris bali ini merupakan salah satu peninggalan dai kekuasan Kerajaan Majapahit. Konon katanya, keris ini kebudayaan Majapahit yang sangat kuat, sehingga alat pertempuran seperti keris ini diangkat oleh kerajaan-kerajaan di Pulau Bali atau bisa disebut dengan Pulau Dewata.

Menurut filosofi, keris bali ini dilihat sebagai simbol dari nilai ajaran-ajaran tentang kehidupan agama Hindu. Bahkan, mereka mempunyai hari-hari tertentu untuk beribadah ketika akan merawat kesucian keris pusaka yang dimiliki olehnya.
Keris ini dijadikan sebagai peralatan perang penduduk Bali, kegunaannya selain untuk melindungi diri, keris ini bisa mewakili seseorang didalam suatu undangan pernikahan/perkawinan.
Menurut dari kepercayaan-kepercayaan penduduk Bali, apabila keris pusaka ini direndam didalam air putih maka akan bisa menyembuhkan anggota keluarga dari gigitan-gigitan binatang yang memiliki bisa.
G. Upacara Adat
Di daerah Bali ini bukan hanya objek wisatanya menarik saja yang dapat kalian nikmari ketika sedang berliburan ke Pulau Bali bersama keluarga, teman, dan lain sebagainya. Namun, dibali juga memiliki budaya hidangan budaya masyarakat bisa kalian jadikan hal menarik untuk kalian nikmati, dan memiliki kesan yang indah, damai dan unik.
Misalkan seperti sedang menyaksikan sejumlah upacara adat di daerah Bali, masyarakat-masyarakat semuanya ikut berbaur dalam upacara adat tersebut semuanya mengenakan pakaian adat Bali, dan pakaian-pakaian adat bali lainnya yang digunakan tergantung pada upacara adat Bali tersebut.
Jadi apabila kalian sedang berwisata atau berlibur kedaerah Bali ini bukan hanya menikmati tempat-tempat yang menarik dan indah saja, tetapi banyak hal yang unik dan indah yang tidak akan membuat jenuh pada suasana.
Upacara adat di Bali ini memang ada kaitannya dengan kehidupan-kehidupan beragama pada masyarakat setempat. Berikut ini adalah salah satu upacara adat bali yang perlu kalian ketahui, yuk langsung saja kita simak pembahasan tentang upacara adat bali:
1. Upacara Ngaben
Upacara Ngaben ialah suatu upacara pembakaran mayat atau jenazah yang dilakukan oleh umat Hindu di daerah bali, upacara adat ini dilakukan untuk mensucikan roh-roh leluhur orang yang telah meninggal dunia dan menuju kepada tempat peristirahatannya dengan melaksanakan pembakaran zenazah.
Ngaben ini memiliki pengertian atau penjelasan lain dengan semua tujuannya mengarahkan mengenai adanya pelepasan terakhir kehidupan seseorang atau kehidupan manusia. Didalam ajaran agama Hindu Dewa Brahma memiliki beberapa macam ujud selain sebagai Dewa pencipta, Dewa Brahma dipercaya juga memiliki ujud sebagai Dewa Api.
Jadi upacara adat Ngaben ini ialah proses pensucian roh-roh dengan melakukan cara dibakan menggunakan api supaya dapat kembali kepada sang pencipta, api menurut dari orang-orang yang beragama hindu bali adalah penjelemaan dari Dewa Brahma yang dapat membakar semua kotoran-kotoran yang terdapat pada mayat dan roh orang yang telah meninggal dunia.

  1. Mesangih, Metatah, Mepandes
Mesangih, metatah, mepandes yang merupakan salah satu upacara agama Hindu di Bali ini merupakan upacara potong gigi. Dalam upacara ini, seseorang harus mengikis 6 gigi bagian atasnya, terutama yang berbentuk taring. Masyarakat Bali percaya bahwa dengan mengikir keenam gigi tersebut, sifat buruk manusia (peserta mesangih) akan berkurang.

  1. Mesuryak

Tradisi unik lain yang dilestarikan masyarakat Bali adalah mesuryak, yaitu tradisi melempar uang ke atas. Biasanya, tradisi ini dilakukan 10 hari setelah hari raya Galungan atau saat hari raya Kuningan. Tradisi ini dilakukan untuk memberi persembahan kepada leluhur mereka yang oleh masyarakat Bali dipercaya turun pada hari raya Galungan dan naik kembali pada hari raya Kuningan.
  1. Melasti
Upacara ini dilakukan 3 hari sebelum hari raya Nyepi. Pada upacara ini, tubuh manusia, benda-benda sakral, dan produk alam dibersihkan dengan cara dihanyutkan untuk benda-benda, sedangkan pembersihan tubuh manusia dengan dipercikki air oleh para pemangku (pemimpin adat di Bali). Mereka percaya, dengan melakukan tradisi ini, kotoran yang melekat pada semua hal yang disucikan tadi menjadi hilang dan bersih lagi.

H. Makanan Khas Bali
1. Ayam betutu

Makanan yang satu ini memang sudah sangat khas sekali dengan Bali. Siapa sih yang bisa melewatkan kuliner ini ketika datang ke Bali? Sudah menjadi ikon kuliner di Bali sehingga ayam betutu sangat tidak boleh dilewatkan.
Kalau kita suka makanan yang pedas, ayam betutu sangat pas untuk disantap oleh lidah kita. Selain itu makanan ini kaya akan rempah-rempah dengan tekstur pedas yang berlimpah.
Penjual ayam betutu di Bali sendiri sudah banyak sekali. Hanya tinggal kita pintar-pintar memilihnya saja yang dekat dengan domisili atau pun yang memiliki rekomendasi paling baik menurut kita.
2. Sate lilit

Namanya sate, pasti khas dengan tusukannya. Tetapi berbeda dengan sate lilit yang satu ini. Jika biasanya sate itu dagingnya ditusuk, sate lilit ini “dililit” di tusukannya.
Sebelumnya dagingnya telah dihaluskan, kemudian diberi bumbu-bumbu khas Bali lalu dililitkan ke batang daun serai. Di sini terlihat jelas perbedaan sate lilit dengan sate lainnya. Bicara soal rasa, gurih dan empuk bisa kita dapatkan ketika makan ini.
Ada tiga daging yang biasa dijadikan sate lilit; ayam, babi, dan ikan tenggiri. Tetapi yang terakhir ini yang menjadi khasnya Bali.
3. Nasi campur ayam

Belum sempat untuk menikmat semua kuliner khas Bali ketika berada di sana? Jangan khawatir, ada nasi campur yang mungkin sudah bisa mengobati rasa penasaran kita akan makanan khas Pulau Dewata.
Seperti namanya, nasi campur memiliki berbagai lauk di dalamnya, sebut saja sate lilit, ayam yang sudah disuir, sayur urap, dan lawar ayam. Ini sangat enak untuk disantap dengan nasi panas.
4. Rujak bulung dan rujak kuah pindang
Rujak dengan kuah dari ikan tuna? Bagaimana rasanya? Yang jelas sangat segar di mulut dan juga pedas, karena dalam dua rujak ini menggunakan irisan mangga dan juga cabai. Tetapi di berbagai tempat kita bisa menemukan dengan isi berbagai buah juga rumput laut di dalamnya.

5. Nasi jinggo

Ini merupakan salah satu makanan murah dari Bali. Tidak ada salahnya mungkin bagi rombongan Raja Salman untuk menikmati menu yang satu ini. Makanan ini dibungkus dengan daun pisang yang juga tersedia sambal khas Bali.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi, dapat disimpulkan keragaman budaya yang dimiliki oleh daerah Bali sangat lah banyak. Seperti cara beretika yang baik sesuai agama dan hokum adat bali yang berlaku, kemudian rumah adat bali yang memiliki arti pada tiap tiap bentuk dan ukiran, kesenian di daerah bali juga sangat lah banyak. Tradisi Upacara-upacara Adat Bali yang beragam juga membuat keragaman akan budaya Bali semakin lengkap. Sehingga banyak sekali yang harus kita ketahui lebih jauh lagi mengenai budaya-budaya yang ada di Indonesia ini terutama Bali yang sebenarnya memiliki budaya yang sangat kental dan beragam.
B. Saran
Menurut saya, karena beragamnya budaya di Indonesia ini, terutama untuk daerah Bali. Sebaiknya kita sebagai generasi penerus terus melestarikan budaya yang ada saat ini dan seterus nya agar tidak hilang begitu saja dan tidak ditiru oleh Negara lain. Karena budaya kita sangat lah kaya akan kreasi dan keindahan yang memiliki arti tersendiri. Kita harus bangga menjadi Warga Indonesia.
Share:

Kebudayaan KALTENG

KATA PENGANTAR 
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat serta karunia-NYA kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang mengenai “KEBUDAYAAN KALIMANTAN TENGAH”.
Makalah ini berisikan tentang kebudayaan penduduk Kalimantan tengah. Dimana masyarakat yang tinggal di Kalimantan tengah itu kebanyakan suku dayak. Kemudian di ikuti oleh suku-suku yang lainnya (pendatang) seperti orang banjar,orang bugis,orang Madura,orang makasar dan masih banyak lagi.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kesalahan dan kekurangan karena keterbatasan kami dalam berbagai hal. Oleh karena itu kepada semua pihak kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah kami ini.
Pageruyung, Oktober 2017
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB II. PEMBAHASAN
A. Rumah Adat
B. Pakaian Adat
C. Tarian Daerah
D. Lagu daerah
E. Alat Musik Tradisional
F. Senjata Tradisional
G. Upacara Adat
H. Makanan Khas
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural, agama maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di wilayah Negara kesatuan republik indonesia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang menggunakan hampir 200 bahasa yang berbeda. Selain itu mereka juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam.
Kebudayaan adalah salah satu aset penting bagi sebuah Negara berkembang, kebudayaan tersebut untuk sarana pendekatan sosial, simbol karya daerah, asset kas daerah dengan menjadikannya tempat wisata, karya ilmiah dan lain sebagainya. Dalam hal ini kebudayaan Kalimantan Tengah yang masih mengedepankan budaya leluhurnya, sehingga kebudayaan tersebut sebagai ritual ibadah mereka dalam menyembah sang pencipta yang dilatarbelakangi kepercayaan tradisional yang disebut Kaharingan.
Dari uraian di atas kami tertarik untuk membuat makalah yang terkait dengan kebudayaan Kalimantan Tengah secara lebih mendalam dengan mengambil judul "Keragaman Etnik & Budaya Kalimantan Tengah”
B. Rumusan Masalah
• Apa dan bagaimana adat dan kebudayaan yang ada di Kalimantan Tengah ?
C. Tujuan
• Agar semua kalangan dari siswa-siswi sampai kalangan mahasiswa dapat mengetahui kebudayaan penduduk Kalimantan tengah yang mempunyai beberapa suku.
D. Manfaat
• Agar semua kalangan mengetahui seluk beluk tentang kebudayaan penduduk Kalimantan tengah.
BAB II
PEMBAHASAN
Kalimantan Tengah
adalah salah satu sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibukotanya adalah Kota Palangka Raya. Pada bagian Utara terdiri Pegunungan Muller Swachner dan perbukitan, bagian Selatan dataran rendah, rawa dan paya-paya. Khususnya kota Sampit adalah daerah tanah gambut, namun daerah ini menjadi pertanian yang sangat dikenal dengan buah nanasnya yang tumbuh subur. Kalteng berbatasan dengan tiga Provinsi Indonesia, yaitu Kalimantan Timur, Selatan dan Barat serta Laut Jawa. Wilayah ini beriklim tropis lembap yang dilintasi oleh garis equator.
Banyak yang belum diketahui, dengan ragam wilayah pantai, gunung/bukit, dataran rendah dan paya, segala macam vegetasi tropis mendominasi alam daerah ini. Orangutan merupakan hewan endemik yang masih banyak di Kalimantan Tengah, khususnya di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting yang memiliki areal mencapai 300.000 ha di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Terdapat beruang, landak, owa-owa, beruk, kera, bekantan, trenggiling, buaya, kukang, paus air tawar (tampahas), arwana, manjuhan, biota laut, penyu, bulus, burung rangkong, betet/beo dan hewan lain yang bervariasi tinggi.
Hutan mendominasi wilayah 80%. Lahan yang luas saat ini mulai didominasi kebun Kelapa Sawit yang mencapai 700.000 ha (2007). Perkebunan karet dan rotan rakyat masih tersebar hampir diseluruh daerah, terutama di Kabupaten Kapuas, Katingan, Pulang Pisau, Gunung Mas dan Kotawaringin Timur.
Berikut adalah keragaman budaya dari kalimantan Tengah,

A. Rumah Adat

Rumah adat Kalimantan Tengah dinamakan Rumah Betang, Bentuk rumahnya panjang, bawah kolongnya digunakan untuk pertenun dan menumbuk padi dan dihuni oleh lebih kurang 20 kepala keluarga.
Rumah terdiri dari 6 kamar antara lain untuk penyimpanan alat-alat perang, kamar untuk pendidikan gadis, tempat sesajian, tempat upacara adat dan agama, tempat penginapan dan ruang tamu. Pada kiri-kanan ujung atap dihiasi tombak sebagai penolak mara bahaya.
Rumah betang dibangun memanjang dengan type bangunan yang kokoh dibuat dari kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin, selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun, kayu ini juga anti rayap. Adapun rumah betang ini dibuat panggung adalah untuk melindungi penghuninya seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang datang melanda.Hampir semua betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan
Ciri-ciri rumah betang yang merupakan rumah adat Kalimantan Tengah antara lain :
Ø Berbentuk panggung dan memanjang
Ø Panjang rumah betang berkisar antara 30 - 50 m
Ø Lebar rumah betang berkisar antara 10 - 30 m
Ø Tinggi tiang rumah betang 3 - 5 m
Ø Rumah betang dihuni oleh 100 - 150 jiwa.
Rumah Betang Kalimantan Tengah dapat dikatakan juga sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Bagian dalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang bisa dihuni oleh setiap keluarga.
Selain Rumah Betang, di Kalimantan Tengah juga kita mengenal beberapa rumah adat lainnya seperti Rumah Baanjung (Baánjung) adalah nama kolektif untuk rumah tradisional suku Banjar dan suku Dayak Bakumpai. Suku Banjar biasanya menamakan rumah tradisonalnya dengan sebutan Rumah Banjar atau Rumah Bahari.
B. Pakaian Adat

Pakaian adatnya pria Kalimantan Tengah berupa kepala berhiaskan bulu-bulu enggang, rompi dan kain-kain yang menutup bagian bawah badan sebatas lutut. Sebuah tameng kayu hiasan yang khas bersama mandaunya berada di tangan. Perhiasan yang dipakai berupa kalung-kalung manik dan ikat pinggang.
Wanitanya memakai baju rompi dan kain (rok pendek), tutup kepala berhiaskan bulu-bulu enggang, kalung manik, ikat pinggang dan beberapa gelang tangan. Pakaian adat tersebut dinamakan sengkarut.
C. Tarian Daerah
a. Tari Tambun dan Bungai, merupakan sebuah tari yang mengisahkan kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan merampas panen rakyat.

b. Tari Balean Dadas, merupakan tarian guna memohon kesembuhan bagi mereka yang sakit.

c. Tari Sangkai Tingang, tari garapan yang memanfaatkan perbendaharaan gerak tari tradisi ini menggambarkan sikap sekelompok wanita dalam mencintai lingkungan hidupnya. Mereka berusaha dan berdoa agar burung enggang yang indah itu tetap dilindungi kelestariannya.


D. Lagu Daerah
Provinsi yang beribukota di Pontianak ini memiliki seni dan budaya khas,yang dimana Suku Dayak disini mendominasi kesenian tersebut. Salah satunya adalah lagu daerah dan berikut contoh lagu daerah dari Kalimantan Tengah :
. Lagu Naluya
Hie isa yaro hanye hoan taro
Hie isa yanai hanye hoan tunai
Geresa hanye anak ku kalelo
Geresa hanye bun suku kahasan
Anakku kalele
Bun suku kakasan
. Lagu Tumpi Wayu
Tumpi wayu lapat wayu
Palit ira tangkuraran
Tumpi wayu lapat wayu
Palit ira tangkuraran
Tulak hanyu muneng aku
Kala wundrung balu bayan
Tumpi wayu tuku hiring
Lelek pangut lawung lanyung
Tumpi wayu tuku hiring
Lelek pangut lawung lanyung
Tulak hanyu muneng aku Kala wundrung balu bayan


. Oh Indang Oh Apang
Sasupak Mawi Aku
En Auh Mu Dandau Anak
Saketong Longge-longget
Bajai Penda Batang
Manok Pukong Penda Lisong
Manok Jampa Penda Huma
Mbirang kajang Penda Bua
E. Alat Musik Tradisional
Diantaranya adalah :
Ø Babun


Babun adalah alat musik berbentuk bulat terbuat dari kayu, terdapat lubang ditengah serta tiap sisinya dilapisi dengan kulit kambing. Babun dimainkan dengan cara di pukul seperti halnya kendang.

Ø Gandang Mara

Gandang Mara ialah alat musik perkusi sejenis gendang dengan ukuran setengah sampai tigaperempat meter. Bentuk silinder yang terbuat dari kayu dan pada ujung permukaan ditutup kulit rusa yang telah dikeringkan, kemudian diikat rotan agar kencang dan supaya lebih kencang lagi diberi pasak.

Ø Gandang Tatau

Gandang Tatau (gendang tunggal) adalah jenis Gandang yang agak besar dan panjang. Panjangnya bisa mencapai satu-dua meter dengan garis tengah atau diameter mencapai lebih kurang 40 centimeter.
Pada Gandang Tatau, salah satu bagian ujungnya dipasang membran yang terbuat dari kulit sapi, rusa atau panganen (ular sawa atau piton) dan pada bagian pangkalnya dibiarkan terbuka untuk menguatkan suara ketika membran ditabuh.
Gandang tatau biasanya digunakan pada upacara-upacara adat, antara lain acara tiwah (upacara kematian, Red), bantang, wara dan upacara penyambutan tamu dengan alat musik pengiring lainnya terdiri atas gong sebanyak tiga-lima buah dan seperangkat kangkanong.

Ø Katambung

Katambung ialah alat musik perkusi sejenis gendang yang biasa digunakan dalam upacara-upacara adat. Ukuran panjang 75 cm terbuat dari kayu ulin dan bagian yang dipukul dengan telapak tangan terbuat dari kulit ikan buntal yang telah dikeringkan berdiameter 10 cm.
Alat musik ini biasa digunakan oleh masyarakat suku Dayak Ngaju yang tinggal di Kalimantan Tengah dan di perkirakan berkembang sebelum abad 10 Masehi.
Bentuk alat musik ini tergolong unik karena menyerupai labu siam atau labu air.
Ketambung digunakan pada upacara besar atau upacara yang berkaitan dengan upacara gawi belom (memotong pantan) dan gawi matey. Pada upacara gawi belom katambung digunakan untuk mengiringi penyambutan tamu, sedangkan pada upacara gawi matey katambung ditabuh pada saat upacara tiwah (kematian), termasuk pada upacara balian ngarahang tulang (mengangkat tulang belulang), balian tantulak (penguburan), dan balian untung (upacara syukuran setelah penguburan maupun mengangkat tulang belulang).
Cara Memainkan - Cara memainkan alat musik Katambung yaitu dengan cara menabuh agar katambung mengeluarkan bunyi yang indah. tekniknya yaitu kulit membran di pukul dengan jari tangan kanan. sementara tangan kiri memegang badan katambung. atau di letakan di atas pelimping dengan posisi jari-jarinya menjulur kedepan(menjuntai kebawah kulit membran). sedangkan bagian tengah katambung cukup hanya dengan disanggah. katambung biasanya dimainkan dalam bentuk kelompok yang beranggotakan 5-7 orang. pamimpinya oleh masayarakat setempat disebut upu.

Ø Kecapi

Kacapi adalah alat musik petik yang terbuat dari kayu ringan.
Di masa lalu tali yang digunakan adalah tengang atau tali liat yang terbuat dari kulit kayu, namun saat ini tengang dapat digantikan dengan tali nilon. Dawai tali kecapi dapat dua, boleh juga tiga. Apabila tali kecapi dipetik nada lagu dapat diatur. Suara kecapi biasanya untuk mengiringi karungut dan Tari kinyah.

F. Senjata Tradisional 
Di Kalimantan Tengah senjata tradisionalnya adalah mandau. Bagian hulunya dihiasi ukiran burung tinggang, sejenis burung enggang. Menurut kepercayaan mereka, burung tinggang adalah penguasa seluruh alam. Senjata terkenal lainnya adalah lunjuk sumpit, randu (sejenis tombak) dan perisai.

G. Upacara Adat
1. Upacara Tiwah

Upacara Tiwah merupakan acara yang paling terkenal adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia. Mereka juga membuat patung yang di persembahkan untuk orang yang meninggal tersebut. Konon, patung ini akan semakin mirip dengan wajah orang yang meninggal tersebut.
Upacara ini disertai dengan menombak kerbau sebagai lambang menolak kejahatan dan nasib buruk.
2. Pakanan Sahur Lewu Dayak.
Upacara "Pakanan Sahur Lewu" Suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) merupakan satu dari lima macam upacara ritual besar khas Suku Dayak Kalteng. "Pakanan" berarti memberikan persembahan berupa sesajen kepada para leluhur atau orang-orang suci. "Sahur" diartikan sebagai leluhur atau dewa yang dipercaya menjaga kehidupan manusia, memberikan kesehatan, keselamatan, perdamaian, berkah dan anugerah bagi yang percaya kepada-Nya. "Lewu" sendiri dalam bahasa Indonesia adalah berarti kampung atau desa tempat bermukimnya suatu penduduk pada sebuah wilayah.
Dengan demikian, Pakanan Sahur Lewu Dayak berarti memberikan sesajen kepada para leluhur atau para dewa yang melindungi warga desa atau kampung sebagai tanda terimakasih atas berkat dunia. Lewat ritual Pakanan Sahur Lewu Dayak ini diharapkan masyarakat luas dapat hidup tentram, rukun dan damai serta mendapatkan rejeki berlimpah dalam mengarungi hidup. Upacara ritual yang disebut Pakanan Sahur Lewu bagi Suku Dayak ini biasanya dilakukan secara berkala sekali dalam setahun. Umumnya Pakanan Sahur Lewu digelar setelah panen berladang atau sawah dan bertepatan dengan tahun baru kalender Dayak, yakni sekitar Bulan Mei dalam hitungan Kalender Masehi.
Upacara Pakanan Sahur Lewu biasanya dipimpin oleh tokoh Agama Kaharingan (agama orang dayak) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Basir. Kendatipun kegiatan ini umumnya dilakukan oleh penganut Agama Kaharingan, namun tujuannya juga menyengkut kepentingan orang banyak. Oleh karena itu, dewasa ini acara Pakanan Sahur Lewu juga sering mengikutsertakan tokoh dan kelompok agama lain.
Selain sebagai sarana untuk menyampaikan ucapan syukur pada Sang Kuasa, Pakanan Sahur Lewu juga dimaksudkan sebagai wadah untuk menjalin semangat persaudaraan dan kegotong-royongan antar sesama warga dan pemeluk agama.

4. Upacara Adat Dayak Manyanggar.
Istilah Manyanggar berasal dari kata "Sangga". Artinya adalah batasan atau rambu-rambu. Upacara Manyanggar Suku Dayak kemudian diartikan sebagai ritual yang dilakukan oleh manusia untuk membuat batas-batas berbagai aspek kehidupan dengan makhluk gaib yang tidak terlihat secara kasat mata.
Ritual Dayak bernama Manyanggar ini ditradisikan oleh masyarakat Dayak karena mereka percaya bahwa dalam hidup di dunia, selain manusia juga hidup makhluk halus. Perlunya membuat rambu-rambu atau tapal batas dengan roh halus tersebut diharapkan agar keduanya tidak saling mengganggu alam kehidupan masing-masing serta sebagai ungkapan penghormatan terhadap batasan kehidupan makluk lain. Ritual Manyanggar biasanya digelar saat manusia ingin membuka lahan baru untuk pertanian,mendirikan bangunan untuk tempat tinggal atau sebelum dilangsungkannya kegiatan masyarakat dalam skala besar.
Melalui Upacara Ritual Manyanggar, apabila lokasi yang akan digunakan oleh manusia dihuni oleh makhluk halus (gaib) supaya bisa berpindah ke tempat lain secara damai sehingga tidak mengganggu manusia nantinya.

H. Makanan Khas
1. Juhu Ubut Rotan

Umbut Rotan merupakan kuliner yang di miliki Suku Dayak, atau dikenal dengan “uwut nang'e”. Makanan yang berbahan dasar rotan muda di buat dengan cara rotan muda dibersihkan kulitnya dibuang lalu dipotong dalam ukuran kecil, lalu umbut rotan dimasak bersama dengan ikan baung, bumbu dan terong asam.
Kuliner yang satu ini mempunyai rasa gurih, asam, dan kepahit-pahitan yang terpadu dengan rasa manis dari daging ikan, yang menjadikan kuliner ini khas rasanya.

2. Kalumpe / karuang

Kalumpe / karuang adalah sayuran yang dibuat dari daun singkong yang ditumbuk halus. Kalumpe sebenarnya adalah bahasa Dayak Maanyan dan karuang sebutan sayur ini dalam bahasa Dayak “Ngaju”. dalam pengolahan kalumpe ini daun singkong ditumbuk halus dan dicampur dengan terong kecil atau terong pipit. dengan tambahan bumbu bawang merah, bawang putih, serai dan lengkuas yang dihaluskan. Apabila anda suka pedas maka anda boleh menambahkan cabe.biasanya kuliner ini di sajikan dengan sambal terasi.
  1. Wadi
Wadi merupakan makanan berbahan dasar ikan kadang juga memakai daging babi, Pengolahanya yaitu ikan atau daging yang hendak diolah dibersihkan terlebih dahulu, selanjutnya direndam selama 5-10 jam dalam air garam. Kemudian daging atau ikan diangkat dan dibiarkan mengering. Setelah cukup kering ikan atau daging dicampur dengan Sa'mu sampai merata. Kemudian daging disimpan dalam kotak kaca, stoples, atau plastik kedap udara yang ditutup rapat-rapat. Simpan kurang lebih selama 3-5 hari. Untuk daging disarankan simpan lebih dari 1 minggu, Setelah selesai, wadi harus diolah kembali antara lain dengan cara digoreng atau dimasak.

  1. Bangamat / Paing (Kalong)
Bangamat merupakan kuliner yang dibuat dari kelelawar besar / kalong. Cara pemasakannya yaitu paing yang akan dimasak dibersihkan dengan membuang kuku, bulu kasar ditekuk dan punggung, serta ususnya, selanjutnya sayap, bulu dan dagingnya dimasak, Biasanya untuk orang Dayak Ngaju paing dimasak dengan bumbu yang lebih banyak kalau untuk Dayak Maanyan, paing dimasak dengan bumbu yaitu serai dan daun pikauk. Biasanya Paing dimasak bersama sayur hati batang pisang yang dipotong-potong, pisang yang di gunakan adalah pisang kipas. Ataupun bisa juga dimasak dengan dengan sulur keladi.

5. Juhu Umbut Sawit
Juhu Umbut Sawit adalah makanan yang sering di cari orang pelancong yang sering ke tanah Dayak. dan bagi suku Dayak, juhu umbut kelapa ini merupakan kuliner favorit yang wajib dihidangkan di setiap diadakan acara-acara seperti syukuran.




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan paparan dan analisis data pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai jawaban atas permasalahan yang diangkat yaitu antara lain:
1. Sebagian masyarakat kalimantan Tengah pada dasarnya masih sangat menghargai kebudayaan tersebut dan juga sangat menghormati leluhur mereka, karena dalam kehidupan mereka sangat percaya pada leluhur mereka, apapun yang ditinggalkan oleh leluhur mereka itulah yang wajib dikerjakan dan mereka beranggapan bahwa bila ini tidak dijalankan maka akan ada bencana bagi keluarga mereka dan juga orang yang ada disekitar mereka .
2. Kebudayaan yang ada di Kalimantan Tengah sangat unik dan menarik, untuk itu kita harus menghargai dan senantiasa melestarikan kebudayaan tersebut, karene itu juga merupakan aset kekayaan bangsa.
B. Saran
Sebagai warga Negara Indonesia kita perlu mengetahui kebudayaan-kebudayaan yang ada di Negara kita sendiri. Kadang kita lebih mengenal budaya yang ada di Negara barat melainkan budaya kita sendiri. Salah satu budaya dari Negara kita adalah budaya suku dayak . Tentu bukan hanya budaya dayak yang ada di negara Indonesia, melainkan masih banyak budaya-budaya yang belum kita ketahui . Maka dari itu kita harus mengenal budaya kita sendiri mulai memberikan wawasan kepada anak-anak sejak dini agar memahami beragam budaya yang ada di Negeri tercinta ini.
Share:

Curug Merak

Jalan Santai Bogosari

get this widget here

Unordered List