KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan
rahmat serta karunia-NYA kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini yang mengenai “KEBUDAYAAN BALI”.
Makalah ini berisikan tentang kebudayaan penduduk Pulau Dewata. Dimana
masyarakat yang tinggal di pulau ini kebanyakan beragama Hindu.
Sehingga adat dan budayanya pun sangat kental dengan adat Hindu.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak luput dari kesalahan dan
kekurangan karena keterbatasan kami dalam berbagai hal. Oleh karena itu
kepada semua pihak kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah kami ini.
Pageruyung, Oktober 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB II. PEMBAHASAN
A. Rumah Adat
B. Pakaian Adat
C. Tarian Daerah
D. Lagu daerah
E. Alat Musik Tradisional
F. Senjata Tradisional
G. Upacara Adat
H. Makanan Khas
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Hal
ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural, agama maupun geografis yang
begitu beragam dan luas. Sekarang ini, jumlah pulau yang ada di wilayah
Negara kesatuan republik indonesia (NKRI) sekitar 13.000 pulau besar dan
kecil. Salah satu pulau yang terkenal sampai mancanegara adalah pula Bali.
Pulau dewata ini digadang – gadang sebagai surge dunia, karena keindahan
alam dan juga keunikan adat budayanya.
Kebudayaan adalah salah satu aset penting bagi sebuah Negara berkembang,
kebudayaan tersebut untuk sarana pendekatan sosial, simbol karya daerah,
asset kas daerah dengan menjadikannya tempat wisata, karya ilmiah dan lain
sebagainya. Dalam hal ini kebudayaan Bali yang masih mengedepankan budaya
leluhurnya, dan juga agamanya sehingga membuat kebudayaan tersebut sangat
menarik dan juga sebagai ritual ibadah mereka dalam menyembah sang
pencipta. Dari uraian di atas kami tertarik untuk membuat makalah yang
terkait dengan kebudayaan Bali secara lebih mendalam dengan mengambil judul
"Keragaman Etnik & Budaya Bali”
B.
Rumusan Masalah
· Apa dan bagaimana adat dan kebudayaan yang ada di Pulau Bali ?
C.
Tujuan
· Agar semua kalangan dari siswa-siswi dapat mengetahui kebudayaan penduduk
Bali.
D.
Manfaat
· Agar semua kalangan mengetahui seluk beluk tentang kebudayaan penduduk
Bali.
BAB II
PEMBAHASAN
Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang ada di Indonesia yang
menyediakan beberapa tempat wisata yang sangat unik dan indah, tentunya
bagi kalian yang sudah pernah berkunjung ke Pulau Bali ini pasti mengetahui
apa saja tempat-tempat wisata yang ada di Pulau Bali tersebut.
Yang perlu kalian tahu, di Pulau Bali ini bukan hanya menawarkan
keindahan-keindahan tempat wisata saja loh, tetapi pulau bali ini
menawarkan Kebudayaan Bali yang sangat banyak sekali kategori nya.
A.
Rumah Adat
Rumah Adat Bali / Bali, selain dikenal memiliki eksotisme alam yang luar
biasa, juga telah diakui banyak kalangan sebagai provinsi yang memiliki
banyak keunikan budaya. Masyarakat Bali secara umum dianggap mampu
mempertahankan budaya yang telah diwariskan nenek moyang mereka meski telah
berpuluh-puluh tahun digempur dengan masuknya banyak orang asing –terutama
wisatawan yang datang dengan membawa budaya-budaya baru. Salah satu bentuk
lestarinya budaya asli Bali dapat kita lihat dari adanya desain rumah adat
yang sangat familiar dan hampir digunakan semua penduduk Bali, yakni rumah
adat bernama
Gapura Candi Bentar yang kini juga telah resmi menjadi
rumah adat Bali. Rumah adat satu ini adalah cerminan dari budaya Bali yang
sarat akan nilai-nilai Hindu.
1. Struktur Ruangan Rumah
Nama Gapura Candi Bentar yang dimiliki rumah ini sebetulnya berasal dari
desain gapura atau pintu masuknya yang diukir sedemikian rupa sehingga
tampak seperti candi. Gapura ini berukuran cukup besar dan dibangun tanpa
atap penghubung. Hanya ada 2 bangunan candi yang kembar saling berhadapan
dan saling terpisah. Keduanya hanya dihubungkan oleh beberapa anak tangga
dan pagar pintu yang biasanya dibuat dari besi. Melongok ke bagian dalam
pagar tembok (panyengker), kita akan melihat bahwa rumah adat Bali ini
memang sarat dengan nilai-nilai Hindu. Terdapat sebuah bangunan suci di
depan rumah yang biasa digunakan untuk bersembahyang. Sama seperti gapura,
bangunan tempat ibadah yang bernama Sanggah atau Pamerajan itu juga
dipenuhi dengan ukiran dan ornamen-ornamen khas Bali beserta totem-totem
pemujaan. Di tempat inilah sesaji diletakan para wanita setiap hari. Adanya
tempat ibadah dalam desain rumah adat Bali merupakan bukti nyata kuatnya
masyarakat Bali dalam memegang erat falsafah Asta Kosala Kosali. Falsafah
ini mengatur hidup masyarakat Bali tentang hubunganya dengan Tuhan,
hubungannya dengan manusia lain, dan hubungannya dengan alam. Masuk ke
bagian dalam rumah, kita akan melihat beberapa ruangan yang memiliki
fungsinya masing-masing. Panginjeng Karang. Ruangan ini merupakan tempat
untuk memuja yang menjaga pekarangan. Bale Manten. Ruangan ini merupakan
tempat untuk tidur kepala keluarga, anak gadis dan tempat menyimpan
barang-barang berharga. Bagian ini juga sering digunakan bagi pasangan yang
baru menikah. Bale Gede atau Bale Adat. Ruangan ini merupakan tempat untuk
upacara lingkaran hidup. Bale Dauh. Ruangan ini merupakan tempat untuk
bekerja, digelarnya pertemuan, dan tempat tidur anak laki-laki. Paon.
Ruangan ini merupakan dapur yang digunakan sebagai tempat memasak Lumbung.
Ruangan ini merupakan tempat untuk penyimpanan makanan pokok, seperti padi
dan hasil bumi lainnya.
2. Material Bangunan Secara umum,
Material yang digunakan untuk membangun rumah Gapura Candi Bentar tidak
dapat disamaratakan karena pengaruh tingkat ekonomi dan strata sosial
pemiliknya. Untuk masyarakat biasa, dinding rumah ini biasanya dibangun
menggunakan speci yang dibuat dari tanah liat (popolan), sementara untuk
golongan bangsawan biasanya dibangun menggunakan tumpukan bata. Adapun
atapnya sendiri bisa dibuat dari genting tanah, alang-alang, ijuk, atau
sejenisnya sesuai dengan kemampuan finansial pemilik rumah.
3. Nilai-Nilai Dalam Rumah Adat Bali
Selain berfungsi sebagai ikon budaya dan tempat tinggal, rumah Gapura Candi
Bentar nyatanya juga mengandung beragam nilai filosofis yang menggambarkan
kearifan lokal budaya Masyarakat Bali. Dalam pembangunan misalnya, rumah
adat ini dibuat melalui serangkaian proses panjang, mulai dari proses
pengukuran tanah (nyikut karang), ritual persembahan kurban dan mohon izin
kepada leluhur untuk mendirikan rumah (caru pengerukan karang), ritual
peletakan batu pertama (nasarin), proses pengerjaan, dan kemudian ditutup
dengan upacara syukuran saat rumah selesai dibangun. Semua ritual tersebut
pada intinya dilakukan dengan tujuan agar rumah yang didirikan dapat
memberikan manfaat terbaik bagi si pemilik rumah. Ada pula beberapa aturan
lain yang terdapat dalam tata letak dan pengaturan bagian rumah adat Bali
ini. Umumnya, sudut utara dan timur rumah menjadi tempat yang disucikan,
sementara sudaut barat dan selatan memiliki derajat kesucian yang lebih
rendah. Hal ini membuat kita selalu menemukan tempat ibadah di sudut utara
dan timur, dan tempat buang air, kamar mandi, dan penjemuran berada di
sudut barat dan selatan.
B.
Pakaian Adat.
Ada beberapa jenis pakaian adat di Bali, jika dilihat sekilas memang
pakaian pakaian tersebut terlihat sama, tapi jika dilihat dengan seksama
ternyata berbeda lho, yang membedakan pakaian adat Bali adalah asal daerah,
jenis kelamin dan umur. Dengan melihat pakaian yang digunakan masyarakat
Bali dalam suatu acara tertentu, bisa kita lihat dan bedakan status ekonomi
dan pernikahannya. Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti apa nama
pakaian adat Bali karena banyaknya jenis pakaian sesuai dengan daerah asal
pengguna tersebut.
Secara umum pakaian adat untuk pria adalah :
· ikat kepala atau dalam bahasa Bali disebut Undeng
· kain kamen (sebagai pengganti celana)
· kain kampuh (kain penutup bagian pingging, setelah kamen)
· kemben sabuk dan perhiasan lainnya
· selendang pengikat atau dalam bahasa Bali disebut umpal.
Sedangkan bagi wanita Bali, umumnya pakaian adat yang digunakan adalah :
· songket sabuk prada yang biasanya membelit bagian dada dan pinggang
· kain tapih dan perhiasan lainnya.
Dan kita bisa mengetahui status sosial seseorang apabila masyarakat
menggunakan pakaian tertentu seperti ; Saat menuju ke Pura biasanya remaja
putri yang belum menikah menggunakan sanggul atau pusung gonjer sedangkan
untuk wanita dewasa baik yang sudah menikah ataupun belum, biasanya
menggunakan sanggul yang sering disebut pusung tagel. Pakaian adat Bali
tidak hanya menampilkan keindahan bagi pemakainya saja, tapi juga
menonjolkan sisi filosofi, simbolik dan nilai nilai yang terkandung
didalamnya. Busana Agung merupakan pakaian yang paling mewah di Bali,
biasanya pakaian ini digunakan dalam acara pernikahan, biasanya menggunakan
kain wastra putih sebagai simbol kesucian, Busana Agung sendiri memiliki
beberapa variasi tergantung tempat dan waktu. Dalam pemakaian pakaian adat
Bali, sering kali kita melihat masyarakat Bali menyelipkan bunga di telinga
dan rambut mereka, seperti bunga cempaka putih dan cempaka kuning, hal ini
bukan hanya untuk keindahan saja, melainkan mempunyai maksud tersendiri
sebagai penghormatan bagi tamu yang sudah berkunjung. Filosofi pakaian adat
Bali pada dasarnya bersumber dari Sang Hyang Widhi, yaitu Tuhan yang
dipercayai umat hindu yang memberikan kedamaian. Pakaian adat Bali ini
biasa digunakan hanya pada acara tertentu saja, masyarakat Bali jarang
menggunakannya untuk kegiatan sehari-hari.
C.
Tarian Daerah
Keindahan tradisi yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat Bali
membuat kita ingin kembali menyaksikannya. Seperti halnya tarian-tarian
tradisionalnya yang unik dan istimewa di bawah ini:
1.
Tari Kecak
Berbeda dengan tarian tradisional umumnya, tari kecak tidak diiringi oleh
instrumen musik, melainkan oleh suara “chak-chak” yang diutarakan para
penarinya. Dari suara itu jugalah asal nama tarian ini. Tarian ini
dilakukan oleh sekelompok pria (yang jumlahnya bisa mencapai ratusan) yang
duduk melingkar sambil mengangkat kedua tangan mengikuti irama dan dipimpin
oleh seorang pendeta di tengah. Tarian yang mengambil cerita dari Ramayana
ini dicipatakan pada tahun 1930-an oleh Wayang Limbak dan pelukis asal
Jerman Walter Spies.
2.
Tari Pendet
Tari pendet merupakan tarian Bali yang awalnya adalah tarian pemujaan yang
diciptakan oleh I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng pada tahun 1950. Pada
1967, tarian tersebut diubah menjadi tarian penyambutan. Tarian ini
dibawakan oleh sekelompok gadis muda yang masing-masing sambil membawa
sangku, kendi, cawan, serta perlengkapan sesajen lainnya. Adapun orkes
gamelan yang mengiringi tari pendet ini ialah gamelan gong, gamelan
palegongan, atau gamelan semar pagulingan. Gerakannya sederhana namun
dinamis, pendet sering dianggap sebagai dasar gerakan tari tradisional
Bali.
3.
Tari Legong
Nama dari tari ini berasal dari kata
legong yang berarti gerakan
yang terikat oleh iringan gamelan. Awalnya, tarian ini dikembangkan pada
abad ke-19 di keraton-keraton Bali. Konon, tari yang biasanya dibawakan
oleh dua atau tiga perempuan ini diciptakan atas dasar mimpi Pangeran
Sukawati yang melihat bidadari. Awalnya, tarian ini juga dipentaskan khusus
untuk upacara-upacara sakral. Raut wajah penari cenderung ekspresif dengan
dinamika gerakan tangan dan kaki yang cukup kompleks. Tari Legong Kraton
adalah jenis tarian yang paling terkenal.
4.
Tari Cendrawasih
Sesuai dengan namanya, tari ini terinspirasi oleh burung langka yang hidup
di Papua. Tari ini ditampilkan pertama kali pada 1988 dan diciptakan oleh
N. L. N. Swasthi Wijaya Bandem. Tarian duet ini bercerita tentang sepasang
burung cendrawasih yang bernyanyi dan menari saat tengah memadu kasih.
5.
Tari Barong
Tarian khas Bali yang satu ini mirip dengan pertunjukan Barongsai asal Cina
karena menggunakan boneka yang berwujud harimau. Hanya saja, cerita yang
dimainkan dalam tari barong didasarkan pada cerita yang berbeda, yakni
pertarungan antara Barong (kebaikan) dan Rangda (kebatilan). Selain itu,
pertunjukan tari yang mengandung unsur komedi ini juga menyertakan
tokoh-tokoh lainnya, seperti Kera (sahabat Barong), Dewi Kunti, Sadewa
(anak Dewi Kunti), serta para pengikut Rangda. Jenis-jenis tari barong
adalah Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Gajah, Barong Asu
(anjing), Barong Brutuk, serta Barong-barongan.
D.
Lagu Daerah
Selain terkenal dengan wisatanya yang indah, Di Provinsi Bali ini juga
terkenal dengan keanekaragaman Seni dan Budayanya. Salah satunya yaitu lagu
daerahnya,dan berikut beberapa lagu Daerah dari Provinsi Bali :
Lagu Macep-cepetan
Jani m'lati macepet-cepetan
Nanging limane tusing dadi matiang
Sejaba ento mekajang dadi
Nyenje kalah lakar gedhing
Lagu Meyong-Meyong
Meong-meong…
Alih je bikule…
Bikul gede gede…
Buin mokoh-mokoh…
Kereng pesan ngerusuhin…
Lagu Putri Ayu
Cening putri ayu Ngijeng Cening jumah
Memeluas malu Ke peken meb'lanje
Apang ade daharan nasi
Memetiang ngiring Nongos ngijeng jumah
Sambilan mekumpul Ajak titiang dadue
Ditekani nyenggap gapin
Pelalian Cening Kotak wadah gerip
Jaje megenepan Ane luwung luwung
Bunge melah melah Ambunane sarwe miyik
E.
Alat Musik Tradisional
Alat Musik Tradisional Bali pada umumnya juga dapat ditemukan dibeberapa
provinsi lain di Indonesia. Akan tetapi selain perbedaan nama tentu saja
alat musik tersebut memiliki ciri khas baik bentuk ornamen, ukiran atau
cara memainkannya yang membuatnya berbeda walaupun dengan fungsi dan bunyi
yang sama. Dan berikut ini beberapa alat musik tradisional Bali yang dapat
kita kenal :
1. Alat Musik Tradisional Bali - "Gamelan Bali"
Bali yang kita kenal sebagai pulau dewata juga memiliki gamelan seperti
halnya provinsi lain di pulau Jawa. Gamelan sendiri merupakan seperangkat
alat musik tradisional yang terdiri dari gong, kendang, kempul dan gambang.
Bahan pembuatan gamelan antara lain terbuat dari logam, menghasilkan suara
yang nyaring dan gema yang yang bagus, dipakai dalam upacara agama dan
mengiringi tarian.
Walaupun bisa dikatakan memiliki fungsi yang sama dengan gamelan dari pulau
Jawa, akan tetapi bentuk ornamen atau hiasan gamelan Bali menjadi salah
satu ciri yang membedakannya.
2. Alat Musik Tradisional Bali - "Rindik"
Rindik merupakan salah satu alat musik tradisional Bali. Alat musik yang
dimainkan dengan cara dipukul tersebut terbuat dari susunan bambu.
Terdapat lima nada dasar yang dimiliki oleh Rindik. Rindik biasa digunakan
sebagai musik pengiring hiburan rakyat "Joged Bumbung. Namun, seiring
dengan perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam
pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara
pernikahan/resepsi serta dapat pula untuk menyambut tamu.
3. Alat Musik Tradisional Bali - "Ceng-Ceng"
Alat musik tradisional Bali selanjutnya disebut dengan Ceng-ceng. Ceng ceng
adalah musik yang berbentuk seperti 2 buah keping simbal yang terbuat dari
logam, yang dimainkan dengan carame madukan keping simbal tersebut. Alat
musik tradisional Bali yang satu ini dipakai untuk mengiringi gamelan
maupun rindik.
|
|
Alat musik ceng-ceng dari Bali
|
4. Alat Musik Tradisional Bali - "Pereret"
Alat musik tradisional Pereret
dari Bali merupakan alat musik kuno sejenis trompet yang terbuat dari bahan
kayu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi trompet. Alat musik ini
banyak dibuat di daerah Jembrana, Bali. Biasanya alat musik ini digunakan
untuk mengiringi kesenian Sewo Gati. Cara menggunakan Pereret ini adalah
dengan meniup alat tersebut sehingga keluar suara yang sangat merdu dan
menawan hati.
Di Bali jaman dahulu dikenal dengan istilah Pereret pengasih asih. Hal ini
disebabkan karena biasanya alat ini sering dipakai oleh perjaka untuk
mengguna-gunai seorang gadis yang dicintai nya, lalu memainkannya pada
malam hari diatas pohon yang tinggi, sehingga suaranya bisa didengar
sayup-sayup merdu dari jarak kurang lebih satu kilometer. Sebelum dipakai,
alat tersebut terlebih dahulu diisi dengan kekuatan gaib oleh Jero Balian
(Dukun) dengan cara memberi sesajen sakral yang dipersembahkan kepada
Sanghyang Pasupati.
5. Alat Musik Tradisional Bali - "Genggong"
|
|
Alat musik tradisonal genggong Bali
|
Genggong merupakan salah satu instrumen getar yang unik yang semakin jarang
dikenal orang. Keunikannya terletak pada suara yang ditimbulkannya yang
bila dirasakan memberi kesan mirip seperti suara katak sawah yang riang
gembira bersahut-sahutan di malam hari. Keunikannya yang lain adalah
memanfaatkan rongga mulut orang yang membunyikannya sebagai resonator.
Alat musik tradisional Bali ini dibunyikan dengan cara mengulum (yanggem)
pada bagian yang disebut “palayah”nya. Jari tangan kiri memegang ujung alat
sebelah kiri dan tangan kanan menggenggam tangkai bambu kecil yang
dihubungkan dengan tali benang dengan ujung alat di sebelah kanan. Untuk
membunyikannya maka benang itu ditarik-tarik ke samping kanan agak menyudut
ke depan, tetapi tidak meniupnya. Rongga mulut hanya sebagai resonator,
dibesarkan atau dikecilkan sesuai dengan rendah atau tinggi nada yang
diinginkan.
F.
Senjata tradisional
Pada setiap masing-masing daerah pasti memiliki yang namanya dengan senjata
tradisional, yang mana senjata tradisional itu ketika zaman dahulu
dipergunakan dengan baik untuk berperang melawan musuh-musuh yang menyerang
diri kita, berburu atau sebagai alat pelengkap ketika adanya kegiatan
resmi.
Menurut kisah cerita, keris bali ini merupakan salah satu peninggalan dai
kekuasan Kerajaan Majapahit. Konon katanya, keris ini kebudayaan Majapahit
yang sangat kuat, sehingga alat pertempuran seperti keris ini diangkat oleh
kerajaan-kerajaan di Pulau Bali atau bisa disebut dengan Pulau Dewata.
Menurut filosofi, keris bali ini dilihat sebagai simbol dari nilai
ajaran-ajaran tentang kehidupan agama Hindu. Bahkan, mereka mempunyai
hari-hari tertentu untuk beribadah ketika akan merawat kesucian keris
pusaka yang dimiliki olehnya.
Keris ini dijadikan sebagai peralatan perang penduduk Bali, kegunaannya
selain untuk melindungi diri, keris ini bisa mewakili seseorang didalam
suatu undangan pernikahan/perkawinan.
Menurut dari kepercayaan-kepercayaan penduduk Bali, apabila keris pusaka
ini direndam didalam air putih maka akan bisa menyembuhkan anggota keluarga
dari gigitan-gigitan binatang yang memiliki bisa.
G.
Upacara Adat
Di daerah Bali ini bukan hanya objek wisatanya menarik saja yang dapat
kalian nikmari ketika sedang berliburan ke Pulau Bali bersama keluarga,
teman, dan lain sebagainya. Namun, dibali juga memiliki budaya hidangan
budaya masyarakat bisa kalian jadikan hal menarik untuk kalian nikmati, dan
memiliki kesan yang indah, damai dan unik.
Misalkan seperti sedang menyaksikan sejumlah upacara adat di daerah Bali,
masyarakat-masyarakat semuanya ikut berbaur dalam upacara adat tersebut
semuanya mengenakan pakaian adat Bali, dan pakaian-pakaian adat bali
lainnya yang digunakan tergantung pada upacara adat Bali tersebut.
Jadi apabila kalian sedang berwisata atau berlibur kedaerah Bali ini bukan
hanya menikmati tempat-tempat yang menarik dan indah saja, tetapi banyak
hal yang unik dan indah yang tidak akan membuat jenuh pada suasana.
Upacara adat di Bali ini memang ada kaitannya dengan kehidupan-kehidupan
beragama pada masyarakat setempat. Berikut ini adalah salah satu upacara
adat bali yang perlu kalian ketahui, yuk langsung saja kita simak
pembahasan tentang upacara adat bali:
1.
Upacara Ngaben
Upacara Ngaben ialah suatu upacara pembakaran mayat atau jenazah yang
dilakukan oleh umat Hindu di daerah bali, upacara adat ini dilakukan untuk
mensucikan roh-roh leluhur orang yang telah meninggal dunia dan menuju
kepada tempat peristirahatannya dengan melaksanakan pembakaran zenazah.
Ngaben ini memiliki pengertian atau penjelasan lain dengan semua tujuannya
mengarahkan mengenai adanya pelepasan terakhir kehidupan seseorang atau
kehidupan manusia. Didalam ajaran agama Hindu Dewa Brahma memiliki beberapa
macam ujud selain sebagai Dewa pencipta, Dewa Brahma dipercaya juga
memiliki ujud sebagai Dewa Api.
Jadi
upacara adat Ngaben
ini ialah proses pensucian roh-roh dengan melakukan cara dibakan
menggunakan api supaya dapat kembali kepada sang pencipta, api menurut dari
orang-orang yang beragama hindu bali adalah penjelemaan dari Dewa Brahma
yang dapat membakar semua kotoran-kotoran yang terdapat pada mayat dan roh
orang yang telah meninggal dunia.
-
Mesangih, Metatah, Mepandes
Mesangih, metatah, mepandes yang merupakan salah satu upacara agama Hindu
di Bali ini merupakan upacara potong gigi. Dalam upacara ini, seseorang
harus mengikis 6 gigi bagian atasnya, terutama yang berbentuk taring.
Masyarakat Bali percaya bahwa dengan mengikir keenam gigi tersebut, sifat
buruk manusia (peserta mesangih) akan berkurang.
-
Mesuryak
Tradisi unik lain yang dilestarikan masyarakat Bali adalah mesuryak, yaitu
tradisi melempar uang ke atas. Biasanya, tradisi ini dilakukan 10 hari
setelah hari raya Galungan atau saat hari raya Kuningan. Tradisi ini
dilakukan untuk memberi persembahan kepada leluhur mereka yang oleh
masyarakat Bali dipercaya turun pada hari raya Galungan dan naik kembali
pada hari raya Kuningan.
-
Melasti
Upacara ini dilakukan 3 hari sebelum hari raya Nyepi. Pada upacara ini,
tubuh manusia, benda-benda sakral, dan produk alam dibersihkan dengan cara
dihanyutkan untuk benda-benda, sedangkan pembersihan tubuh manusia dengan
dipercikki air oleh para pemangku (pemimpin adat di Bali). Mereka percaya,
dengan melakukan tradisi ini, kotoran yang melekat pada semua hal yang
disucikan tadi menjadi hilang dan bersih lagi.
H.
Makanan Khas Bali
1. Ayam betutu
Makanan yang satu ini memang sudah sangat khas sekali dengan Bali. Siapa
sih yang bisa melewatkan kuliner ini ketika datang ke Bali? Sudah menjadi
ikon kuliner di Bali sehingga ayam betutu sangat tidak boleh dilewatkan.
Kalau kita suka makanan yang pedas, ayam betutu sangat pas untuk disantap
oleh lidah kita. Selain itu makanan ini kaya akan rempah-rempah dengan
tekstur pedas yang berlimpah.
Penjual ayam betutu di Bali sendiri sudah banyak sekali. Hanya tinggal kita
pintar-pintar memilihnya saja yang dekat dengan domisili atau pun yang
memiliki rekomendasi paling baik menurut kita.
2. Sate lilit
Namanya sate, pasti khas dengan tusukannya. Tetapi berbeda dengan sate
lilit yang satu ini. Jika biasanya sate itu dagingnya ditusuk, sate lilit
ini “dililit” di tusukannya.
Sebelumnya dagingnya telah dihaluskan, kemudian diberi bumbu-bumbu khas
Bali lalu dililitkan ke batang daun serai. Di sini terlihat jelas perbedaan
sate lilit dengan sate lainnya. Bicara soal rasa, gurih dan empuk bisa kita
dapatkan ketika makan ini.
Ada tiga daging yang biasa dijadikan sate lilit; ayam, babi, dan ikan
tenggiri. Tetapi yang terakhir ini yang menjadi khasnya Bali.
3.
Nasi campur ayam
Belum sempat untuk menikmat semua kuliner khas Bali ketika berada di sana?
Jangan khawatir, ada nasi campur yang mungkin sudah bisa mengobati rasa
penasaran kita akan makanan khas Pulau Dewata.
Seperti namanya, nasi campur memiliki berbagai lauk di dalamnya, sebut saja
sate lilit, ayam yang sudah disuir, sayur urap, dan lawar ayam. Ini sangat
enak untuk disantap dengan nasi panas.
4. Rujak bulung dan rujak kuah pindang
Rujak dengan kuah dari ikan tuna? Bagaimana rasanya? Yang jelas sangat
segar di mulut dan juga pedas, karena dalam dua rujak ini menggunakan
irisan mangga dan juga cabai. Tetapi di berbagai tempat kita bisa menemukan
dengan isi berbagai buah juga rumput laut di dalamnya.
5. Nasi jinggo
Ini merupakan salah satu makanan murah dari Bali. Tidak ada salahnya
mungkin bagi rombongan Raja Salman untuk menikmati menu yang satu ini.
Makanan ini dibungkus dengan daun pisang yang juga tersedia sambal khas
Bali.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Jadi, dapat disimpulkan keragaman budaya yang dimiliki oleh daerah Bali
sangat lah banyak. Seperti cara beretika yang baik sesuai agama dan hokum
adat bali yang berlaku, kemudian rumah adat bali yang memiliki arti pada
tiap tiap bentuk dan ukiran, kesenian di daerah bali juga sangat lah
banyak. Tradisi Upacara-upacara Adat Bali yang beragam juga membuat
keragaman akan budaya Bali semakin lengkap. Sehingga banyak sekali yang
harus kita ketahui lebih jauh lagi mengenai budaya-budaya yang ada di
Indonesia ini terutama Bali yang sebenarnya memiliki budaya yang sangat
kental dan beragam.
B.
Saran
Menurut saya, karena beragamnya budaya di Indonesia ini, terutama untuk
daerah Bali. Sebaiknya kita sebagai generasi penerus terus melestarikan
budaya yang ada saat ini dan seterus nya agar tidak hilang begitu saja dan
tidak ditiru oleh Negara lain. Karena budaya kita sangat lah kaya akan
kreasi dan keindahan yang memiliki arti tersendiri. Kita harus bangga
menjadi Warga Indonesia.